Terkadang  apa  yang kita  impikan  sering kali  tidak sesuai dengan  kenyataannya, tapi  aku yakin apa yang  ditakdirkan  itu   merupakan anugrah yang terbaik. Manusia terkadang hanya melihat dari sisi lahiriahnya semata, sedangkan dibalik semua itu ada sesuatu  yang lebih baik bahkan lebih dahsyat. Itulah misteri. kehidupan. Seperti hal ini terjadi pada diriku. Profesi menjadi seorang  pendidik sejatinya  bukan merupakan cita-citaku sejak kecil, Namun aku selalu  berkomitmen, setiap  takdir harus  kujalani dengan sungguh-sungguh dan penuh dengan rasa syukur.Ternyata  setelah menggelutinya aku langsung  jatuh cinta dengan profesi mulia ini.

Bagaimana tidak? Karena profesi mulia ini dapat mengantarkan estapet  generasi penerus banggsa yang bermartabat di mata dunia. Setiap langkahku dalam mengabdikan diri sebagai seorang pendidik, tertanam dalam benakku sebagai  amanah yang mulia.Tugas mulia ini menuntut penanganan khusus dan ekstra kesabaran. Guru dihadapkan dengan berbagai latar belakang siswa yang berbeda. Hal ini dalam pelaksanakannya, tentu tidak  semudah membalikkan telapak  tangan. Tetapi tentu memerlukan kesabaran dan keihklasan  agar  siswa tersebut  bisa menimba  ilmu untuk bekal masa depannya.

Aku bertugas  di sebuah Sekolah Mengah Atas (SMA), siswa yang kuhadapi dalam kegitan belajar sehari-hari adalah siswa berusia remaja. Sebuah usia yang rentan dan  labil dalam menerima berbgai perubahan, sehingga banyak permasalahan  yang berdampak   pada kegitan pembelajaran. Dari sekian banyak permasalahan yang timbul, ada satu permasalahan yang mencuri perhatianku. Entah kenapa selalu membayang-bayangi di benakku. Seorang siswaku  yang sering terlambat, bahkan sering tidak masuk sekolah  tanpa kabar berita. Kalaupun dia  masuk, tapi  dalam kegiatan belajar di kelas siswaku yang satu ini,seperti dalam ungkapan  bahasa Sunda “Badan Adep Ati mungkir ” hanya jasadnya saja  yang berada di kelas tetapi  dan hatinya entah ke mana? Sehingga kegitan belajar tidak bisa diikuti dengan  maksimal.Akhirnya berimbas pada  banyaknya  materi yang tidak tuntas.

 Jiwaku semakin tidak menentu,  tatkala aku belum bisa menemukan solusinya. Semula aku berpikiran terlalu melambung jauh  bahkan  mengganggap bahwa siswaku ini  berkarakter  multi buruk,.Yang  lebih esktrim lagi  aku  sudah memvonis  siswaku ini dengan sesuatu  yang  kadang tak terpikirkan sebelumnya  dalam memori otakku.Hari demi  hari aktifitas kegiatan belajarnya semakin menurun. Aku makin bingung dan  penasaran. Tanpa berpikir panjang  bergegas aku  mencari tahu apa sebenarnya yang terjadi dengan diri siswaku yang satu ini.Aku diam-diam  mulai  bergrilya agar bisa mendapatkan  informasi  tentang keberadaan   siswaku ini, tetapi tidak satupun dari mereka yang kutemui  memberikan jawaban yang kuharapkan.

Akhirnya kuputuskan untuk segera menemui  guru bimbingan konseling (BK) berdiskusi  dan  mendiagnosa permasalahan yang dialami siswaku ini.Beruntung aku bisa menahan diri  untuk tidak bertindak sembrono walaupun kadang timbul prasangka  yang buruk terhadapnya. Sebab dalam benakku    terus terngengiang, pesan   ibuku  bahwa dalam menghadapi ujian dan masalah aku harus senantiasa sabar dan tawakal. Hari -demi hari  aktifitas wati (bukan nama asli) belum menunjukkan adanya tanda-tanda menuju ke arah perubahan yang positif, malah semakin memburuk.

Sudah hampir  3 hari wati tidak  tampak di kelas, dan lagi-lagi  tidak ada kabar berita. Akupun panik dan bingung  kepada siapa harus mencari tahu kabar ini. Teman- temannya sudah kurang peduli terhadapnya, bahkan kalau ada tugas kelompok Wati sering tidak ikutsertakan. Perlakuan teman-teman wati terhadap dirinya merupakan hal yang wajar dan sangat manusiawi. Hal ini dampak dari aktifitas  Wati dalam kegitan belajar yang  tidak kooperatif,  apalagi berkontribusi dalam menyelesaikan tugas kelompok dengan  mereka. Aku  tidak berputus asa terus berusaha semaksimal mungkin  mencari  tahu bagaimana agar permasalahan ini  segera  mendapat solusi  dan teratasi dengan baik.

Alhamdulillah setelah menghubungi bagian stap tata usaha  akhirnya aku bisa menemukan alamat tempat tinggal  orang tua wati. Akupun   memutuskan  untuk segera mengadakan home visit. Aku berangkat dengan menggunakan sepeda  motor bersama guru Bimbingan Konseling (BK). Ternyata akses jalan menuju rumah Wati tidak bisa dilalui kendaran roda empat  atau  kendaraan umum. Selama di  perjalanan  aku merenung dan  bertanya-tanya dalam pikiranku : ” berapa lama lagi  kiranya aku sampai ke rumah orang Wati?” Setelah menghabiskan waktu sekitar  satu setengah jam dengan jalan yang terjal berliku dan  penuh bebatuan  akhirnya aku  tiba di rumah orang tua wati.

 Tak terbayangkan  sedikitpun sebelumnya dalam pikiranku  keadaan tempat tinggal siswaku  di tempat terpencil  dan terisolir seperti ini. Kita semua pasti sudah bisa menduga   bagaimana kondisi keluarga Wati  yang berada di tempat yang seperti ini. Pasti sudah dapat membayangkan betapa pedihnya  hati kita  melihat kenyatan seperti ini. Betapa berat beban   hari-hari  yang ia  lalui dalam merajut kehidupnya.  Ayahnya bekerja sebagai  seorang buruh tani.Dia  mengarap lahan milik orang lain dengan cara menyewa atau bagi hasil. Untuk menambah penghasilan keluarga, Wati dan orang tuanya bekerja membuat tusukan sate yang terbuat dari bambu untuk dijual kepada tukang sate atau ke pasar.

 Ibarat  teriris sembilu,  betapa pedihnya hati ini, menyaksikan  kondisi keluarga seperti ini, tapi di sisi lain semangat yang menggelora dalam jiwa siswaku ini  membuat hatiku takjub dan bangga. Kondisi  seperti ini  sudah  jarang bahkan langka ditemukan  di jagat raya ini.  Mungkin bisa dihitung dengan jari  sosok-sosok manusia  seperti siswaku yang spesial ini. Dia pantang menyerah, dan  punya tekad membaja dalam menggapai cita-citanya.  Selama ini mungkin  aku khilaf  kupikir semua siswaku berpenghidupan layak  walau tidak bergelimang  dengan kemewahan.  Ternyata persepsiku meleset. Mengingat letak sekolahku tempat mengajar bukan di daerah peloksok  tetapi ada di pertengahan  antara kota dan desa.

Dengan perasaan bersalah dan penuh haru, tak kuasa aku  membendung   linanngan air mata yang terus membasahi kedua pipiku. Ternyata dugaanku  selama ini  salah besar, aku mersa bersalah.   Aku telah berprasangka yang bukan-bukan. Kupeluk  Wati  erat -erat, sambil kubisikan :” Maafkan  Ibu , Nak!  Selama ini Ibu telah berprasangka buruk terhadapmu.”   Ternyata kamu anak yang hebat! yang tidak pernah ibu temukan sebelumnya. Dengan kondisi seperti ini kamu masih  memilki semngat dan motivasi yang tinggi demi menggapai kehidupan yang lebih baik.

Setelah ngobrol panjang lebar dengan orang tuanya, akhirnya kami sepakat untuk mencari solusi agar wati bisa terus sekolah dengan baik. Alhamdulilah zakat profesi dan infak dari guru dan stap tata usaha, yang ada di sekolahku dapat membantu  menyelamatkan Wati  dari putus sekolah. Sebagian kebutuhan dan biaya sekolah  Wati bisa terpenuhi  dari uang zakat dan infak. Menyaksikan kondisi  sepert ini  membuat   hatiku  semakin bersyukur  akan segala nikmat yang telah dianugrahkan kepadaku.  Sebagai wujud rasa syukurku,  Wati  kuangkat sebagai anak asuhku, dan sekaligus  tinggal di rumahku.  Adapun kebutuhan sehari-harinya  adalah tanggung jawabku. Alhamdulillah Wati  bisa sekolah dan belajar  dengan baik tanpa harus  terbebani  biaya.

Kini  kesungguhan Wati dalam belajar terliahat aktif dan  kondusif. Teman di kelasnya  berbalik menjadi simpatik dan  kagum,   karena sejatinya Wati bukanlah anak yang malas,tapi karena keadaanlah  yang memaksa dia bersikap seperti itu. Pada suatu kesempatan  kujelaskan kepada teman-temannya   di depan kelas:” SiapaWati sebenarnya?”  Dia adalah sosok siswa yang sangat luar bisa, gigih dan punya daya juang yang tinggi dalam mewujudkan dan menggapai masa depannya yang gemilang .Untuk sampai ke sekolah dia butuh waktu  sekitar dua jam dengan berjalan kaki,  Jadi kalau  masuk sekolah    pukul 07. 15, berarti dia  harus berangkat dari rumah skitar pukul 05.00 pagi. Dapat dibayangkan seandainya posisi kalian seperti Wati.” Apakah  kalian  sanggup menjalaninya?”

Dua tahun sudah wati tinggal di rumahku. Karakter Wati semakin terlihat jelas. Dia memang sosok anak yang baik dan shalehah, hampir tidak pernah luput setiap malam ba’da magrib ia mengaji dan  melaksanakan, tilawah, dan  tahjud. Adapun  ibadah   sunnah  lainnya seperti shalat duha dan puasa Senin- Kamis itu sudah menjadi habit   yang melekat dalam dirinya. Berkat kerja keras dan keshalehannya, pantaslah   dia mendapat imbalan  beasiswa bidik misi di salah satu  perguruan tinggi negeri di Jawa Barat. Sampai sekarang komunikasi  dengan Wati  keluarganya terus berlangsung, seperti layaknya saudara yang ada hubungan kekerabatan. Orang tuanya sering berkunjung bersilaturahmi  terutama pada momen-momen tertentu seperti  Hari Raya Idul Fiftri.

Wati juga sering chat denganku walaupun hanya sekedar  menanyakan kabar keadaanku dan apabila ada ujian tidak lupa  memohon doanya agar  ujiannya diberikan kemudahan. Kini  Wati  sudah  menjadi seorang sarjana dan  memilki penghasilan yang cukup dan dapat membantu  meringankan beban hidup  kedua orangtuanya. Tiada  kebahagian yang paling hakiki,bagi seorang pendidik, bila seorang siswa yang kita didik bisa meraih apa yang didambakan untuk diri dan memuliakan kedua orang tuanya.

Sebagai seorang pendidik, hendaknya jangan pernah memandang suatu masalah yang dihadapi siswa dengan prasangka negatif , karena boleh jadi  permasalahan itu timbul karena keadaan  yang tidak kita duga sebelumnya. Jadilah pendidik yang amanah, sabar dan penuh keikhlasan., karena sabar dan syukur merupakan dua amalan yang mencerminkan keimanan pada seseorang. Mendidk dengan mengahadirkan hati yang tulus,  ikhlas dan penuh kesabaran akan membuahkn hasil yang  mencengangkan. Dengan tanpa  mengesampingkan profesi lainnya,  Profesi seorang pendidk  merupakan profesi mulia. Aku sangat  bersyukur dan  bangga  sudah ditakdirkan menjadi menjadi seorang pendidik.