Ketika Tangan dan Kaki Berkata

Akan datang hari mulut dikunci

Kata tak ada lagi

Akan tiba masa tak ada suara

Dari mulut kita

Berkata tangan kita

Tentang apa yang dilakukannya

Berkata kaki kita

Ke mana saja dia melangkahnya

 Tidak tahu kita bila harinya

Tanggung jawab tiba

Akan tiba masanya

Robbana (Robbana)

Tangan kami

Kaki kami

Mulut kami

Mata hati kami

Luruskanlah (luruskanlah)

Kukuhkanlah

Di jalan cahaya sempurna

Mohon karunia kepada kami

Hamba-Mu yang hina

                                         (Taufik Ismail/Chrismansyah Rahadi)

 

Syair lagu di atas, mengingatkan kita akan peristiwa yang akhir-akhir kita saksikan dalam kehidupan sehari-hari. Sebelum terjadinya wabah pandemi covid-19, mungkin kita agak jarang mendengar dan menyaksikan berita duka atau wafatnya seseorang, baik kerabat, sahabat atau handai tolan. Namun di masa pandemi ini, pemandangan seperti itu sudah merupakan konsumsi sehari-hari kita. Ketika kita menonton televisi, atau buka internet selalu kita temukan berita tentang kematian yang jumlahnya begitu mencengangkan dan memilukan. Antrian jenazah begitu banyak.

Petugas pemulasaraan jenazah kewalahan untuk menanganinya karena jumlah Jenazah yang harus dipulasara tidak sebanding dengan jumlah petugas yang ada.

Pemakaman jenazah yang lazimnya yang kita saksikan pada siang hari, kini pada masa pandemi, kita sering menyaksikan pemakaman pada malam hari, akibat membludaknya jenazah yang harus dikebumikan.

Belum lagi antrean pasien hampir di seluruh rumah sakit, yang begitu membludak sampai tak tertampung, karena melebihi kapasitas yang ada. Akhirnya pasien ditempatkan di selasar rumah sakit bahkan di tenda-tenda darurat, sungguh pemandangan yang miris dan memilukan…

Pemerintah membuka lahan baru pemakaman karena lahan pemakaman sebelumnya sudah penuh.

Sungguh kenyataan yang memilukan sekaligus membuat kita bermuhasabah, hari ini yang wafat, saudara, kerabat atau sahabat kita, mungkin esok atau lusa akankah giliran siapa dipanggil oleh Sang Kholiq?

Syair lagu berjudul ”Ketika Tangan dan Kaki Berkata” yang dikarang oleh Taufik Ismail dan dipopulerkan oleh Chrismansyah Rahadi atau yang lebih dikenal dengan nama Chriyse begitu menyentuh kalbu dan menginagatkan kita akan suatu hari yang tak pernah kita tahu entah kapan akan datang kepada kita, karena kedatangannya dirahasiakan yaitu kematian.

Wabah pandemi ini, seharusnya mengingatkan kita dan sekaligus bermuhasabah, akan segala hal sudah kita lakukan, agar kita bisa mempersiapkan bekal bila kelak dipanggil untuk menghadap-Nya. Manusia merupakan salah satu makhluk sosial yang diciptakan oleh Allah. Manusia diberikan hati dan naluri sebagai pangkal perbedaan dari makhluk-makhluk yang lainnya. Pada dasarnya semua ciptaan Allah itu akan binasa. Misalnya, alam semesta ini. Dia akan mengalami kebinasaan pada waktu yang telah ditetapkan oleh Allah dan itu menjadi rahasia besar Ilahi. Sama halnya dengan kita.

Kita sebagai makhluk yang diciptakan oleh Allah pada hakikatnya juga akan menemui masa perpisahan kita dengan alam dunia ini. Memang ini menjadi teka-teki dan misteri besar yang sampai peran teknologi di era revolusi industri 4.0 dan modernisasi abad ke-21 semakin pesat berkembang tidak mampu mengetahui kapan waktu kita untuk berpisah dengan alam dunia yang hanya sebentar saja ini. Oleh karena itu, kita sebagai salah satu makhluk ciptaan Allah yang paling tinggi derajatnya diwajibkan untuk selalu bersiap-siap untuk menyongsong hari berpisahnya dengan alam dunia ini. Karena semua manusia di bumi ini tidak ada yang tahu persis kapan dan di mana kita akan mengalami perpisahan dengan alam dunia ini.

“Sering-seringlah mengingat pemutus segala kenikmatan, yaitu KEMATIAN, karena tidaklah seseorang mengingatnya dalam kesempitan hidup melainkan akan melapangkannya dan tidaklah seseorang mengingatnya dalam keleluasaan hidup melainkan akan mempersempitnya.” (HR. Baihaqi, Ibnu Hibban dan Bazzar, dishahihkan oleh Syaikh Al-Albani dalam Shahih al-Jami)

Mengingat kematian akan menimbulkan rasa khawatir di dunia yang fana karena kita akan menuju negeri akhirat yang abadi. Kematian tidak mengenal usia, waktu ataupun penyakit tertentu agar setiap orang mempersiapkan diri untuk menghadapinya. Manusia tidak pernah lepas dari kondisi lapang dan sempit, sehingga dengan mengingat kematian, maka manusia tidak akan terlena ataupun berputus asa dari takdir. Manusia yang mengingat kematian akan dimuliakan dalam 3 hal, yaitu:

Segera bertaubat,

Hati qanaah,

Giat ibadah.

Di masa pandemim ini kita sering dikejutkan dengan banyaknya kabar duka yang datang, baik yang kita saksikan di layar televisi maupun yang datang dari kaum kerabat, sahabat dan handai tolan.

Setiap hari, kita menyaksikan dan mendengar bunyi sirine ambulan yang hilir mudik mengangkut pasien dan jezajah. Situasi seperti ini tentunya tak terbayangkan oleh kita sebelumnya. Ruang gerak kita dibatasi sehingga kita tidak bisa beraktifitas dengan bebas, guna menekan penyebaran covid-19.

Sepanjang sejarah, baru kali ini dunia dilanda musibah yang meluluhlantakan berbagai sektor. kehidupan, termasuk di dalamnya Indonesia. Sektor yang paling berdampak yaitu perekonomian dan pendidikan. Kita sangat prihatin menyaksikan saudara-saudara kita yang bekerja di bidang sektor informal, karena nyaris tidak bisa mencari nafkah untuk memenuhi kebutuhan keluarganya. Kita harus bersyukur, atas segala nikmat yang dianugrahkan Allah SWT.

Sebagai wujud rasa syukur, sudah sepatutnya kita harus bisa berbagi untuk meringankan beban saudara-saudra kita yang berdampak musibah covid-19.

Dengan banyaknya kabar duka yang kita saksikan, sebenarnya Allah rindu dengan hambanya, yang selama ini kita terkadang lalai karena dengan berbagai kesibukan yang harus dilakukan.

Sebelum wabah pandemi datang ke dunia ini, terkadang kita luput dari mengingat Allah, apalagi mengingat kematian. Padahal kematian selalu mengintai kita. Di masa pandemi ini, kita lebih banyak waktu karena semua aktifitas kita yang berhubungan dengan pekerjaan dilaksanakan secara online. Jadi waktu untuk mendekatkan diri kepada Allah lebih banyak, tinggal kita bagaimana memaksimalkan waktu yang ada. Sebagai orang yang bijak kita mempersiapkan bekal untuk menuju kampung akhirat.

Kematian adalah takdir seluruh makhluk, baik orang sehat ataupun sakit. Seperti dalam firman Allah Ta’ala berikut ini (yang artinya), “Tiap-tiap yang berjiwa akan merasakan mati. Dan sesungguhnya pada hari kiamat sajalah disempurnakan pahalamu. Barangsiapa dijauhkan dari neraka dan dimasukkan ke dalam surga, maka sungguh ia telah beruntung. Kehidupan dunia itu tidak lain hanyalah kesenangan yang memperdayakan.” (QS. Ali Imran: 185).

Setiap manusia memiliki ajal, dan kematian tidak bisa dihindari dan kita tidak ada yang bisa lari darinya. Namun sayang, sedikit manusia yang mau bersiap menghadapinya. Seperti dalam firman Allah Ta’ala (yang artinya), “Katakanlah, “Sesungguhnya kematian yang kamu lari daripadanya, maka sesungguhnya kematian itu kan menemui kamu, kemudian kamu akan dikembalikan kepada (Allah), yang mengetahui yang ghaib dan yang nyata, lalu Dia beritakan kepadamu apa yang telah kamu kerjakan.” (QS. Jumu’ah: 8).

“Di mana saja kamu berada, kematian akan mendapatkan kamu, kendatipun kamu di dalam benteng yang tinggi lagi kokoh.” (QS. An-Nisa’: 78).

“Sesuatu yang bernyata tidak akan mati melainkan dengan izin Allah, sebagai ketetapan yang telah ditentukan waktunya. Barang siapa menghendaki pahala dunia, niscaya Kami berikan kepadanya pahala dunia itu, dan barang siapa menghendaki pahala akhirat, Kami berikan (pula) kepadanya pahala akhirat itu. Dan Kami akan memberi balasan kepada orang-orang yang bersyukur.” (QS. Ali-Imran: 145).

Pandemi yang terjadi saat ini mungkin juga berfungsi mengangkat manusia kembali ke jalur yang benar karena mungkin selama ini telah melenceng dari rel yang benar. Jadi di balik setiap musibah itu pasti ada hikmahnya. Oleh karena itu kita jangan meratapi musibah.

Namun kita semua yakin bahwa Allah SWT. menurunkan sesuatu tentu ada hikmah dibalik itu semua. Berulangkali musibah datang silih berganti menerpa negeri yang tercinta ini. Konotasinya musibah selalu diartikan buruk. Padahal sebenarnya yang kita anggap buruk boleh jadi merupakan kebaikan. Dalam Surat (Al Baqarah ayat 216) Allah berfirman yang artinya, diungkapkan bahwa boleh jadi sesuatu yang kamu benci padahal itu baik bagimu dan apa saja yang kamu sukai malah bisa buruk bagimu. Hal seperti inilah yang secara kasad mata terjadi dimuka bumi ini.

Manusia diberi harta yang melimpah kadang kurang menyadari kalau semua itu hanya sekadar titipan itu sebagai ujian mampukah memanfaat harta yang melimpah secara baik dan benar. Sementara disisih lain ada yang diuji sebaliknya dengan menjalani kehidupan serba kekurangan, diuji sejauh mana kesabaran yang mereka miliki. Itu sebabnya Allah SWT. menyatakan: Allah yang menciptakan hidup dan mati untuk menguji kamu, siapa diantara kamu yang lebih baik amalnya. (QS. Al-Mulk : 2). Kemudian dalam Surat (Muhammad ayat 31) Allah berfirman: Kami pasti akan menguji kamu sampai Kami tahu siapa orang-orang yang berjihad di jalan Allah dan bersabar.

Tidaklah Allah SWT. menciptakan peristiwa, atau kejadian sesuatu yang sia-sia. Manusia dianjurkan untuk merenung dan mengambil pelajaran dari berbagai macam peristiwa yang terjadi. Islam sangat mendorong umatnya untuk menggunakan potensi yang Allah berikan kepadanya, penglihatan, pendengaran, hati, panca indra yang lain agar difungsikan untuk merenung hikmah di balik peristiwa.

Musibah yang menimpa umat manusia adalah karena perbuatan mereka sendiri yang melanggar peraturan Allah, merusak ekosistem kehidupan, banyak melakukan kemaksiatan dan dosa, tidak menjalankan perintah dan syariat-Nya. Pertama kali ketika menghadapi musibah, hendaknya iman kita yang berbicara, bukan hawa nafsu yang protes. Karena seseorang ditentukan oleh sikap pertama kalinya terhadap kejadian. Rasulullah SAW. mengingatkan Sesungguhnya sabar itu ketika merespon kejadian pertama kali. Selanjutnya berdoa kepada Allah SWT. agar diberikan pahala atas musibah itu dan memperoleh ganti yang jauh lebih baik. Manusia seperti kita, seringkali menerima ujian. Ujian itu bisa jadi kita senangi atau kita rasakan sebagai yang tidak  disenangi. Bisa jadi kekayaan dan kesehatan justru tidak baik bagi kamu, tetapi malah ujian atas kekurangan seperti harta yang kurang, ujian penderitaan karena sakit justru ada kebaikan di balik itu. Bersabarlah kita atas ujian, pastinya aka nada kebaian setelahnya.

Dalam Alquran, disebutkan: Dan tidakkah mereka memperhatikan bahwa mereka diuji sekali atau dua kali setiap tahun, kemudian mereka tidak (juga) bertaubat dan tidak mengambil pelajaran. (QS. At-Taubah: 126). Melihat kesemua itu, dapatlah kita berkata bahwa ujian itu sebagai rahmat-Nya kepada kita yang hidup, supaya kita ingat kepada Allah, supaya lebih dalam lagi rasa kemanusiaan sesama kita, supaya kita lebih dekat lagi kita kepada Allah, supaya lebih terasa lagi kehadiran Allah dalam setiap sendi kehidupan kita.

Corona Virus Disease yang biasa disebut sebagai covid-19 kini tengah mewabah di Indonesia, bahkan di dunia. Virus ini sangat cepat sekali penyebarannya hingga berdampak pada ratusan negara yang ada di dunia, khususnya negara Indonesia sudah banyak masyarakat yang terpapar virus tersebut. Hikmah dibalik pandemi ini antara lain:

  1. Meningkatkan kualitas ibadah serta memperbanyak dzikir dan memperkuat doa. Dengan kita meningkatkan kualitas ibadah serta mendekatkan diri kepada Allah, membuat hati kita menjadi tenang. Wabah covid-19 yang merebak di berbagai negara termasuk di Indonesia, tentunya hikmah yang dapat kita ambil sebagai umat Islam adalah dengan memperbanyak serta meningkatkan kualitas ibadah kita kepada Allah, juga memperbanyak dzikir dan berdo’a. Ketika seorang manusia merasa hatinya sedang merasa kesulitan, kegundahan, sedang tertimpa musibah berupa sakit atau bencana lainnya. Maka sudah sepatutnya sebagai hamba Allah kita harus mendekatkan diri kepada Allah, merayu kepada- Nya untuk meminta pertolongan kepada Allah dengan senantiasa memperbanyak berdoa dan berdzikir kepada Allah. Dan Allah pasti mendengar doa-doa hambaNya. Allah akan melihat bagaimana kita sebagai umat islam melaksanakan kewajiban kita sebagai hamba -Nya yang senantiasa menyembah-Nya. Karena sejatinya manusia yang tidak mau berdoa kepada Allah termasuk orang yang sombong.
  2. Meningkatkan rasa solidaritas antar sesama. Akibat pandemi ini banyak orang-orang yang tidak bisa mencari nafkah untuk biaya hidup mereka. Untuk orang-orang yang mampu banyak yang memberikan bantuan berupa sembako atau uang kepada mereka yang terdampak pandemic, sebagai bentuk solidaritas kita kepada sesama.
  3. Menumbuhkan rasa syukur atas segala nikmat dan karunia yang telah Allah berikan. Sejatinya, menumbuhkan rasa syukur kepada Allah tidak harus ketika dalam keadaan lapang, akan tetapi dalam keadaan susah kita pun harus selalu bersyukur atas segala nikmatnya. Sebab, syukur akan kita rasakan manakala kecintaan kita kepada Allah dan merasa cukup atas segala nikmat-Nya sudah tertanam didalam hati kita. Dengan selalu melihat kebawah. Melihat kepada orang yang lebih susah daripada kita. Sebagai wujud rasa syukur kita, kita bisa berbagi dengan sesama yang membutuhkan.
  4. Memperkuat kesadaran untuk terus menuntut ilmu. Karena meskipun kita berada di era kemajuan ilmu pengetahuan dan teknologi ternyata obat untuk virus corona belum ditemukan, hal ini tercatat dalam kompas.com. Maka dari itu pentingnya untuk memperdalam ilmu.Khususnya dalam ilmu agama. Karena Allah akan meninggikan derajat orang yang berilmu.
  5. Memperbanyak Infaq dan sedekah. Dengan tutupnya beberapa lapangan pekerjaan akibat adanya wabah virus corona ini, membuat sebagian masyarakat terutama buruh, pedagang menjadi resah. Banyak orang resah dan panik akan kelanjutan hidupnya di tengah pandemi Covid-19. Maka sudah seharusnya sikap kita sebagai umat Islam meringankan beban mereka, dengan berinfaq dan bersedekah dengan apapun kepada mereka yang terkena dampak Covid-19 secara langsung. Karena di dalam Islam, diajarkan bagaimana meringankan tangan untuk membantu mukmin yang lain, inshaAllah akan mendapatkan ganjaran yang sangat baik dari Allah SWT.

Sesuatu yang berharga dalam hidup bukanlah uang atau kekayaan, memiliki sahabat-sahabat yang mengerti kita itu juga bagian dari hal yang paling berharga dalam hidup kita. Mungkin kita akan merasa biasa saja saat berkumpul bersama sahabat kita, berbagi cerita bersama sahabat, atau pun hal lain yang kita lakukan bersama sahabat kita, tapi semuanya akan berbeda saat sahabat kita pergi meninggalkan kita, pergi ke dunia berbeda, dan pergi untuk selama-lamanya. Semua hal yang telah kita lakukan bersama sahabat kita akan terasa amat sangat berarti dan berharga, karena kita tidak akan pernah bisa mengulanginya kembali, dan kita hanya bisa merekamnya dalam memori ingatan kita.

Sahabat merupakan salah satu orang yang paling berarti di kehidupan ini. Semua hal yang kita raih dan miliki sekarang, tentu tidak akan pernah lepas dari peranan seorang sahabat. Setiap orang akan selalu merasa berhutang budi kepada sahabat pasalnya sahabat sejati akan selalu hadir saat kita butuh dan merangkul saat kita terjatuh.

Di samping itu, manusia sebagai mahluk sosial juga tidak bisa hidup sendiri. Setiap individu akan selalu membutuhkan pertolongan serta dukungan dari orang lain. Sahabat, keluarga juga berperan penting dalam menentukan langkah seseorang untuk menjalani hidup ini.

Setiap orang juga pernah memiliki kisah dan kenangan yang pernah dilalui bersama seorang sahabat. Meskipun terkadang harus berpisah, akan tetapi banyak cerita suka dan duka. Bersama sahabat yang hingga kini masih membekas di hati dan sanubari.

Seorang sahabat, ada untuk kita di setiap langkah hidup kita dan kita berbagi semua kebahagiaan dan kesedihan kita dengan mereka. Mengucapakan salam perpisahan dengan sahabat dekat adalah salah satu momen tersulit dalam hidup kita.

Jadi, jika Anda memiliki teman/sahabat yang akan pergi atau pindah, beri tahu dia betapa berarti persahabatan Anda bagi Anda dan betapa Anda akan merindukan teman Anda.

Pesan perpisahan untuk sahabat bisa dianggap lebih dari sekedar waktu untuk mengucapkan selamat tinggal kepada orang yang Anda sayangi dan memiliki persahabatan jangka panjang. Mereka dapat digunakan untuk mendoakan yang terbaik kepada seorang teman/sahabat yang akan membalik halaman dan memulai perjalanan baru dalam hidup. Untuk semua situasi sulit ini, ketika seseorang yang dekat dengan Anda akan pergi untuk waktu yang lama dan selamanya. Tidak terbersit sedikit pun di angan hari itu, merupakan hari terakhir bagiku untuk bisa berkomunikasi walaupun melalui Whatshapp, dengan sahabatku tercinta.

Malam hari itu, batinku bagai disambar petir di siang bolong, setelah membaca kabar duka.

Berita menggelegar, sontak batinku dan pasti semua orang nyaris tidak percaya. “Tidak mungkin? Pasti berita duka ini salah!”

Namun semua anggapan yang terbersit dalam anganku ternyata tidak bisa aku pungkiri, walaupun aku terus menolaknya dan tetap bersikeras bahwa berita duka itu pasti tidak benar, atau kabar yang masih belum pasti.

Tapi….aku harus pasrah dan ikhlas, karena setelah dikonformasi kebenaran berita tersebut ternyata….benar adanya, dan aku harus ikhlas menerimanya.

Ada momen yang menyayat hatiku karena diakhir perpisahan denganya kami nyaris jarang bertemu. Semenjak mewabahnya pandemi, kami jarang sekali bisa bertemu dengan semua rekan guru karena situasi yang memaksa kita harus hidup dalam keterbatasan. Kita jarang bisa ngobrol, bercanda dengan penuh suka cita secara tatap muka. Situasi itulah yang membuat hatiku semakin pilu, karena menjelang kepergiannya; kami jarang bercengkrama dengan semua rekan guru.

Banyak sudah kisah yang tertinggal, tawa canda dan ceriamu yang terus membayangi lubuk hati kami. Sahabat….kau telah buat satu kenangan, sahabat kau kini telah pergi arungi kedamaian. Selamat jalan sahabat cepatlah berlabuh di haribaan-Nya.

Hari-hari yang kan kujalani, kini semua kan terasa sunyi. Walau hampa pasti harus kujalani demi mencerdaskan kehidupan bangsa. Demi memelanjutkan cita-cita dan pengabdianmu.kami akan selalu mengenangmu, walau kau sudah tiada sisi kami, namun kau tetap hadir di hati kami.

Selamat jalan sahabat! Doa kami senantiasa menyertaimu, selamat menjemput Syurgamu!

Kematian memang merupaka hal yang wajar, namun terkadang sulit diterima, apalagi saat kematian datang pada orang yang terkasih/sahabat. Kehilangan orang yang kita kasihi yang sangat berarti dalam hidup kita memang terasa memilukan. Namun semua itu sudah menjadi takdir Yang Kuasa.

Dalam menjalani sebuah kehidupan, setiap orang pasti akan mengalami sebuah pertemuan dan perpisahan karena ini akan saling beriringin satu sama lain. Walau perpisahan memang cenderung berat dan terkadang menyakitkan , namun hal itu harus kita dijalani.

Ruang hati tak lagi bernyanyi. Berubah sepi nan sunyi sejak dia pergi. Sisa penyesalan masih ada di sudut hati. Kenangannyapun belum hilang dalam ingatan ini. Perpisahan, semanis apa pun, seindah apa pun, tetaplah berpisah. Ada cerita yang sejak detik itu harus berubah menjadi kenangan. Manusia merencanakan pertemuan, namun Allah yang menentukan jika akhirnya harus ada perpisahan, tidak ada yang harus disesali.

Sahabat …. telah pergi untuk selamanya, mungkin dia kini berada di tempat yang lebih indah, tapi

dia akan tetap hidup di hati ini, terbungkus rapi bersama kenangan-kenangan indah yang tidak akan pernah pudar bahkan untuk selamanya.

Sahabat….. menjadi satu cerita dalam hidupku…dari dia aku belajar tentang ketulusan, dari dia aku belajar menghargai orang lain, dari dia aku belajar menerima apa adanya diri kita, dari dia aku belajar agar tidak mudah terpengaruh orang lain, dan dari dia aku belajar bahwa dalam berteman kita tidak boleh membeda-bedakan satu dengan yang lainnya. Satu hal yang paling berharga yang bisa aku ambil dari dia adalah…’’PERSAHABATAN’’, satu hal yang mungkin sederhana tapi istimewa. Persahabatan sejati adalah ketika kamu harus melihat sahabatmu pergi dan mengetahui kamu tidak akan melihatnya lagi. Tapi, kamu tahu ia akan selalu berada di dalam hati dan pikiranmu selamanya. Sahabat yang baik adalah sahabat yang berani berterus terang dan membetulkan kesalahan kita agar kita tidak terus hanyut dalam dosa.

Hal yang paling jauh dari kita adalah waktu, yang paling dekat adalah kematian, yang paling berat adalah amanah. Setiap kelahiran pasti ada kematian dan setiap pertemuan pasti ada perpisahan. Tak sedikit orang masih lalai akan kematian. Terlalu sibuk dengan urusan dunia. Padahal, kehidupan di bumi ini hanya bersifat sementara. Hari ini dunia adalah nyata, akhirat hanya cerita. Tapi setelah mati, dunia hanya cerita, akhirat jadi nyata. Kematian adalah ujung dari perjuangan, akhir dari kemenangan, pintu dari kehidupan. Kematian adalah puncak. Tuntasnya kerinduan seorang hamba kepada Rabb-nya. Kita semua sama-sama bernapas dan berdarah. Hari ini menggenggam kehidupan, esok mungkin menggenggam kematian.

Belajar tentang kehidupan dipadukan dengan agama, bisa jadi ilmu untuk bekal di hari nanti.

Saat sesuatu yang kita miliki telah pergi, maka sesuatu itu akan terasa begitu berharga, begitu juga dengan sahabat, dan itulah yang aku rasakan saat ini. Saat kita memiliki sahabat, buatlah dia berarti, dan jangan menunggu dia pergi baru kita bisa merasakan betapa berartinya dia buat hidup kita.

“Maka jika datang waktu kematian mereka, tidak bisa mereka tunda dan mendahulukannya sedetikpun”. (QS. An-Nahl [16]: 61).

Marilah kita persiapkan diri ini untuk menyambut suatu yang pasti (kematian) yang akan tiba-tiba datang kepada kita. Kita persiapkan diri untuk kehidupan selanjutnya di akhirat, kita siapkan bekal kita. Semoga kita mampu mengaplikasikan cara-cara mengingat kematian yang telah penulis sajikan diatas tadi, sehingga kita termasuk orang-orang yang bisa lebih mendekatkan diri kepada Allah . Dan semoga kita bisa meraih kematian husnul