Cermin oleh: Emma Marlinah, M.Pd. (SMAN 1 Kabandungan)

 

Pria itu berjalan dengan sedikit membungkuk. Parasnya hampir tidak terlihat.

Seorang temanku tiba-tiba mengalihkan pembicaraan. Pria itu yang menjadi subjeknya. Rambutnya dicat merah. Pakaiannya sembrono, agak gaul.

“Masa calon guru kayak begitu, amit-amit.” Kataku menimpali obrolan temanku tentang sosok pria tadi.

Kami masuk ruang tes. Tiga puluh lima orang berkumpul di ruangan itu. Aku berada di kursi paling belakang sebelah kiri. Pria itu berada dua bangku sebelah kanan dariku. Kami duduk rapi menjelang soal tes Calon Pegawai Negeri Sipil Daerah dibagikan.

“Wajahnya tampan juga,” sejenak aku lirikkan pandanganku pada sosok pria itu.

Dua menit kemudian, kami serius dengan lembaran kertas di depan kami. Dan aku pun lupa untuk menatap kembali wajah pria yang kubicarakan tadi.

Dua pekan kemudian. Aku gugup minta ampun. Sudah sejak subuh, aku berangkat ke loper koran. Aku bergegas karena aku yakin hari ini koran lokal ini akan ludes habis. Ya, habis dibeli oleh para peserta tes CPNS dua minggu lalu yang ingin mengetahui pengumuman hasil tesnya hari ini.

Aku dapat koran dua buah, sekalian untuk cadangan, pikirku. Kubuka perlahan pada halaman pengumuman. Masih bergeming di depan penjual koran. Kuikuti telunjuki menyusuri nomor-nomor peserta beserta nama-nama yang diterima. Aku tiba pada formasi calon guru yang kuikuti. Kulihat ada tiga orang yang masuk. Peringkat pertama seorang laki-laki. Kedua, perempuan. Dan, sambil kuusap-usap mataku hampir tidak percaya, ternyata akulah yang berada di peringkat ketiga. Aku masuk CPNSD.

Seminggu berselang saatnya pembagian Surat Keputusan Tugas. Kami dikumpulkan untuk diberi pengarahan pejabat daerah. Aku malu karena terburu-buru datang. Aku kesiangan. Aku duduk di kursi yang telah diberi label.

Pandanganku tetap ke depan karena tegang. Sampai saat aku ditegur pria di sisiku.

“Maaf, guru bahasa Indonesia juga ya, boleh kenalan?” Tegurnya.

Saat kulirik, “Oh My God, dia pria itu. Pria yang kubicarakan dulu. Mungkinkah dia pun diterima sepertiku,” sesaat aku termanggu sampai aku salah tingkah untuk menjawab sapaannya.

Satu semester selanjutnya kami menjadi cukup dekat. Kami sering bertemu di ajang pertemuan sesama guru mata pelajaran (MGMP). Hingga suatu saat, aku main ke rumahnya untuk menyelesaikan tugas bersama. Aku diperkenalkan kepada ibunya. Setakat itu, ibunya berbicara tentang keinginannya melihat anaknya menikah. Aku tidak terlalu menanggapi. Namun, obrolan kami cukup lama sehingga waktu terlalu malam untuk aku pamit pulang. Aku pun ditawari ibunya untuk menginap. Aku pun mengiyakan.

Aku tidur dengan ibunya. Kami mengobrol banyak. Sampai tiba permintaannya untuk menikah dengan anaknya. Aku tersenyum kecil. Dini hari, saat semua sudah terlelap. Ibu berteriak sambil bertakbir tiga kali. Sesaat setelah itu ibu pergi untuk selama-lamanya. Ibu meninggal dunia dengan tanpa suatu penyakit apapun. Tengah malam itu menjadi saat yang paling aku tidak ingin lupakan. Sedih, haru, dan sunyi.

Dua bulan kemudian. Aku memulai hidup baruku. Ya, aku dilamar oleh seorang pria tampan. Hidungnya mancung. Dia sudah punya penghasilan sendiri. Dan kami menempati sebuah rumah mungil di lingkungan yang asri.

Saat aku lihat wajah polos tidurnya, aku tersipu sekaligus kagum. Namun, terkadang aku menyesal dan malu. Menyesal karena dulu pernah mengatakan “amit-amit” kepadanya. Malu karena ternyata orang yang kusebut buruk dulu, kini menjadi suami tercintaku.

*)Tulisan ini dimuat di buku “Curcol Sahabat Inspirasiku”. Terbit tahun 2012 oleh Leutika Prio.