Menulis sering  dipersepsi oleh banyak orang khususnya guru sebagai suatu yang mustahil untuk dilakukan. “ Saya mau menulis, tapi bagaimana caranya? 

Persepsi tersebuat  melekat pada benak dan pikiran para guru. Penghambat  yang sering  menghalangi seorang untuk  menulis adalah mitos-mitos negatif  dalam pikiran penulis.

Hal terpenting dalam menulis adalah kesinambungan untuk menulis, walaupun waktu yang disediakan untuk menulis tidak terlalu lama.

Seorang guru yang akan menyusun sebuah laporan PTK harus terlebih dahulu menghilangkan anggapan bahwa PTK itu sulit.

PTK yang disusun oleh guru untuk keperluan kenaikan pangkat atau golongan tentu tidak sesulit menulis skripsi karena pengetahuan dan aplikasinya telah kita ketahui, bahkan bisa menjadi mudah dengan beberapa tips berikut agar PTK yang kita susun dapat diterima atau dinilai. Tips menyusun  PTK dengan mudah, sebagai berikut:

  1. Ide
  2. judul
  3. Latar Belakang
  4. Kajian Pustaka
  5. Siklus
  6. Hasil dan Pembahasan
  7. Kesimpulan
  8. Lampiran

 

1.Ide

Pada umumnya ide awal yang timbul dalam  Penelitian Tindakan Kelas (PTK) ialah terdapatnya suatu permasalahan yang berlangsung didalam kelas. Ide awal tersebut diantaranya berupa suatu upaya yang dapat ditempuh untuk mengatasi permasalahan. Ide harus brillian, artinya kreatif serta menarik. Akan lebih baik jika ide itu belum pernah disinggung pada penelitian lainnya. Ide penting untuk memberi arah pada penelitian yang akan disusun. Hampir semua proses pembelajaran yang dilakukan sebagai penjelmaan Standar Kompetensi dan Kompetensi Dasar serta Indikator, memunyai masalah atau tidak sempurna, sehingga ide yang brillian tadi akan memilih masalah yang cocok dengan sendirinya.

Contoh:

………………. 

Pencapaian proses pembelajaran yang dilakukan seorang guru terkadang tidak memuaskan, siswa tidak dapat memenuhi kriteria ketuntasan minimal yang telah ditentukan,  oleh karena itu guru harus memperbaiki proses pembelajaran, agar siswa dapat mencapai hasil belajar yang optimal sesuai dengan KKM yang ditetapkan. Namun kenyataan yang saya alami sebagi guru Bahasa Indonesia di SMA Negeri I Cikembar di Kelas XII IPA-3  Tahun Pelajaran 2011/2012,  dari hasil tes menulis paragraf deduktif dan induktif, hanya 12 siswa, dari 38 siswa atau hanya sekitar 32%  yang dapat menulis  paragraf deduktif dan induktif sesuai dengan kaidah yang ditentukan, serta mendapat nilai di atas KKM. Hal ini menunjukkan tingkat penguasaan siswa terhadap kompetensi dasar menulis  dedutif dan induktif masih  rendah. Banyak hal yang dapat menyebabkan ini terjadi, di antaranya pendekatan  pembelajaran yang belum tepat.

Berdasarkan kenyataan di lapangan tersebut  , dan berdasarkan  pengamatan serta pengalaman dalam melaksanakan proses belajar mengajar Bahasa Indonesia pada SMAN I Cikembar, Kabupaten Sukabumi,  menunjukkan siswa mengalami kesulitan dalam  menguasai  kompetensi dasar, hal ini perlu segera ditangani.

Salah satu solusi yang dapat dilakukan adalah penggunakan pendekatan pembelajaran dan teknik yang tepat. Dengan menggunakan pendekatan dan teknik yang tepat diharapkan dapat meningkatkan penguasaan siswa terhadap kompetensi dasar yang dipelajari. Dengan penggunaan metode Contextual Teaching and Learning (CTL), kompetensi dasar menulis paragraf deduktif dan  induktif diharapkan meningkat

2.Judul

Judul PTK hendaknya dinyatakan dengan akurat dan padat permasalahan serta bentuk tindakan yang dilakukan peneliti sebagai upaya pemecahan masalah. Formulasi judul hendaknya singkat, jelas, dan sederhana namun secara tersirat telah menampilkan sosok PTK bukan sosok penelitian formal. Penyusunan kalimat judul PTK juga harus menarik minat pembaca, sehingga penilai memiliki  ketertarikan untuk membaca PTK yang telah kita susun. Judul tentu berkaitan erat dengan ide, bahkan judul dapat menggambarkan ide yang brillian tadi.

 Contoh judul berdasarkan ide di atas sebagai berikut:

 ..………………..

Bertitik tolak dari masalah di atas, maka saya melakukan refleksi terhadap proses pembelajaran dan melakukan diskusi dengan teman sejawat untuk meningkatkan hasil belajar Bahasa Indonesia, khususnya kompetensi dasar menulis paragraf deduktif dan induktif, dan akan melakukan perbaikan pembelajaran melalui Penelitian Tindakan Kelas (PTK), karena PTK merupakan cara yang tepat bagi guru untuk mengatasi masalah yang timbul dalam pembelajaran di kelas. Sehingga        peneliti tertarik untuk melakukan Penelitian Tindakan Kelas (PTK) dengan judul:”Meningkatkan Prestasi  Belajar dan Kemampuan Siswa dalam Menulis Paragraf Deduktif dan Induktif  dengan menggunakan metode Contextual Teaching and Learning (CTL).”         

 3.Latar Belakang

 Dalam latar belakang permasalahan ini hendaknya diuraikan urgensi penanganan permasalahan yang diajukan itu melalui PTK. Untuk itu, harus ditunjukkkan fakta – fakta yang mendukung, baik yang berasal dari pengamatan guru selama ini maupun dari kajian pustaka. Dukungan berupa hasil penelitian –penelitian terdahulu, apabila ada juga akan lebih mengokohkan argumentasi mengenai urgensi serta signifikansi permasalahan yang akan ditangani melalui PTK yang diusulkan itu.

Permasalahan yang diusulkan untuk ditangani melalui PTK itu dijabarkan secara lebih rinci dalam bagian ini. Masalah hendaknya benar – benar di angkat dari masalah keseharian di sekolah yang memang layak dan perlu diselesaikan melalui PTK. Uraian permasalahan yang ada hendaknya didahului oleh identifikasi masalah, yang dilanjutkan dengan analisis masalah serta diikuti dengan  refleksi awal sehingga gambaran permasalahan yang perlu di tangani itu nampak menjadi perumusan masalah tersebut. Dalam bagian ini dikunci dengan perumusan masalah tersebut. Dalam bagian inipun, sosok PTK harus secara konsisten tertampilkan.

 Cara pemecahan masalah

Dalam bagian ini dikemukakan cara yang diajukan untuk memecahkan masalah yang dihadapi. Alternatif pemecahan yang diajukan hendaknya mempunyai landasan konseptual yang mantap yang bertolak dari hasil analisis masalah. Disamping itu, juga harus terbayangkan kemungkinan kemanfaatan hasil pemecahan masalah dalam rangka pembenahan dan/ peningkatan implementasi program pembelajaran dan/ berbagai program sekolah

 Tujuan Penelitian dan Manfaat Penelitian

Tujuan Penelitian tindakan kelas (PTK) hendaknya dirumuskan secara jelas. Perumusan tujuan harus konsisten dengan hakekat permasalahan yang dikemukakan dalam bagian – bagian sebelumnya.  Ketercapaian tujuan PTK hendaknya dapat diverfikasi secara obyektif.

Disamping tujuan PTK, juga perlu diuraikan kemungkinan kemanfaatan penelitian. Dalam hubungan ini, perlu dipaparkan secara spesifik keuntungan – keuntungan  apa saja yang dapat diambil, khususnya bagi siswa,  di samping bagi guru pelaksana PTK, juga  bagi rekan – rekan guru lainnya.

Latar belakang masalah, harus menunjukkan bahwa masalah  tersebut  memang menjadi perhatian  di kelas yang kita ajar. Meski diharapkan pembahasan latar belakang dimulai yang luas lalu terperinci di dalam kelas kita dengan masalah yang detail pula, namun keluasan pembahasan tidak perlu sampai membahas yang terlalu luas.

Contoh :

   ………….

Standar kompetensi mata pelajaran Bahasa Indonesia merupakan kualifikasi kemampuan minimal peserta didik yang menggambarkan penguasaan pengetahuan, keterampilan berbahasa, dan sikap positif terhadap bahasa dan sastra Indonesia. Standar kompetensi ini merupakan dasar bagi peserta didik  untuk memahami dan merespon situasi lokal, regional, nasional, dan global. (Permendiknas 2007).

      Rumusan Masalah

Berdasarkan  latar belakang masalah di atas, maka rumusan masalah dalam penelitian ini diuaraikan sebagai berikut:

  1. Apakah metode pembelajaran Contextual Teaching and Learning (CTL)   dapat meningkatkan prestasi  belajar  dan kemampuan siswa kelas XII IPA- 3 dalam materi menulis paragraf deduktif dan induktif?
  2. Pemecahan Masalah

Masalah penelitian ini adalah rendahnya hasil belajar siswa pada mata pelajaran Bahasa Indonesia, pada materi menulis paragraf deduktif dan induktif dalam lingkup standar kompetensi menulis. Upaya yang dilakukan untuk memecahkan maslah tersebut, dengan melakukan proses pembelajaran menggunakan pendekatanpembelajaran Contextual Teaching and Learning (CTL) . Hasil belajar siswa dianggap meningkat, jika semua siswa kelas XII IPA- 3 mencapai nilai sama atau lebih besar dari KKM (kriteria Ketuntasan Minimal).

  1. Tujuan Penelitian

Penelitian ini bertujuan untuk:

  1. Mengukur prestasi belajar dan kemampuan siswa dalam materi menulis paragraf deduktif dan induktif dengan pendekatan Contextual Teaching and Learning (CTL).
  2. Manfaat Penelitian

Manfaat yang diharapkan dari penelitian ini, adalah:

  1. Bagi Siswa:
  2. Meningkatkan motivasi belajar siswa.
  3. Bagi Sekolah
  4. Memberikan sumbangan yang positif terhadap kemajuan sekolah.

4.Kajian Pustaka

Pada bagian ini, meski lebih ablea dalam uraiannya, namun sangat mudah menyusunnya. Semua variabel pada judul usahakan mendapat rujukan yang sesuai.

Contoh :

  1. Pendekatan Contextual Teaching and Learning
  2. Pengertian pendekatan Contextual Teaching and Learning

          Pendekatan CTL (Contextual Teaching and Learning) adalah konsep belajar yang membantu guru mengaitkan antara materi yang diajarkannya dengan situasi  nyata siswa dan mendorong siswa membuat hubungan antara pengetahuan yang dimilikinya dengan penerapannya dalam kehidupan mereka sehari-hari  dengan melibatkan tujuh komponen utama dalam pembelajaran efektif  yakni : kontruktivisme (contructivism),  bertanya (question), menemukan (inquiry), masyarakat belajar  (learning community),  pemodelan (modeling), refleksi (reflection), dan penilaian (authentic assesment). (Depdiknas, 2005:5). Dengan konsep itu, hasil pembelajaran diharapkan lebih bermakna bagi siswa. Proses pembelajaran berlangsung alamiah dalam bentuk kegiatan, siswa bekerja dan mengalami, bukan transfer pengetahuan dari guru ke siswa.

      Pengertian Menulis

                    Menurut Nurchasanah (1994:2), menulis adalah proses mengungkapkan atau menuangkan informasi yang berupa pikiran, perasaan atau kemauan dengan

menggunakan wacana tulis dan berdasarkan pada tatanan serta kaidah bahasa yang berlaku.

sesuai dengan tuntutan able baku; (2) jelas; (3) ringkas atau lugas; (4) adanya hubungan yang baik (koherensi); (5) kalimat harus hidup; dan (6) tidak ada unsur yang tidak berfungsi.

Bersambung….