Lilis Ruslina, S.Pd.                                                                       Eva Dian S. S.Pd. , M.Pd.           

 

 

 

Gerakan literasi sekolah (GLS) menjadi langkah awal untuk meningkatkan kualitas mutu peserta didik. Tidak hanya itu saja, gerakan literasi pun mampu menumbuhkan pemahaman dan melatih kebiasaan siswa lebih disiplin dan berwawasan. Di bidang proses belajar mengajar, dapat membantu dan meningkatkan konsentrasi para siswa. Gerakan literasi sekolah hadir sebagai upaya sekolah untuk meningkatkan minat dan keterampilan membaca para siswa dan guru. Itu sebabnya banyak pihak sekolah yang menggencarkan gerakan ini. Gerakan literasi sekolah di SMAN I Cikembar , kian hari kian semarak dengan berbagai aktifitas kegiatan yang dilaksanakan baik oleh siswa maupun guru. Gerakan Literasi Sekolah di SMAN I Cikembar dipimpin oleh koordinator litersai dan Sains dibawah komando ibu Lilis Ruslina SPd. Dan Ibu Eva Dian Sandrawati SPd. MPd.

Geliat pertumbuhan dan perkembangan literasi sudah terlihat semakin berkembang. Siswa giat membaca dan menganalisis buku fiksi dan nonfiksi, hasil karyanya diaplikasiakan lewat “Pohon Geulis”. Dengan demikian siswa lebih terpacu untuk terus berkarya lewat membaca dan menulis.

Berkarya lewat membaca dan menulis dapat segera mewujudkan siswa dan guru yang literat.

Literasi memungkinkan masyarakat akademis menjadi entitas yang mampu bersaing dan lebih maju dibandingkan dengan individu-individu lainnya yang tidak literat. Salah satu upaya agar individu menjadi literat adalah melalui membaca, sebab membaca merupakan kegiatan memahami berbagai aspek kehidupan. Sekolah Menengah Atas (SMA) sebagai suatu institusi yang di dalamnya terdapat individu-individu potensial untuk menjadi sumber daya manusia (SDM) unggul Indonesia harus diupayakan menjadi penggerak lahirnya masyarakat literat agar menjadi entitas pembelajar yang mempunyai potensi dan kemampuan yang sangat luar biasa untuk bersaing. Oleh karenanya, kebiasaan membaca perlu ditumbuhkan, dibina, dan dikembangkan.

Sekolah (GLS) sebagai sebuah gerakan yang bertujuan untuk menumbuhkembangkan kebiasaan membaca di lingkungan sekolah. Hasil dari GLS diharapkan siswa mampu berpikir kritis, dan reflektif.

Saat ini, literasi didefinisikan bukan hanya sekadar mampu membaca dan menulis, namun lebih luas lagi yakni mampu berbicara dengan santun, mampu berperilaku sosial serta menjalin silaturahmi, mampu mengembangkan ilmu pengetahuan, mampu memahami budaya, dan mampu menempatkan literasi dalam kehidupan untuk dapat berkomunikasi dengan efektif (UNESCO, 2012). Dalam konteks pembelajaran, literasi merupakan kemampuan mengakses, memahami, dan menggunakan sesuatu secara cerdas melalui berbagai aktivitas, antara lain membaca, melihat, menyimak, menulis dan berbicara.

Tujuan utama penggunaan strategi literasi dalam pembelajaran adalah untuk membangun pemahaman, keterampilan menulis, dan keterampilan komunikasi peserta didik secara menyeluruh. Tiga hal ini akan bermuara pada pengembangan karakter dan keterampilan berpikir tingkat tinggi yang diharapkan mampu mendongkrak kemampuan berpikir kritis peserta didik dan mampu memecahkan masalah.

Bila ditelisik lebih jauh, literasi memang tidak bisa dipisahkan dari dunia pendidikan. Literasi menjadi sarana peserta didik dalam mengenal, memahami, dan mengaplikasikan ilmu pengetahuan yang didapatkannya di bangku sekolah. Literasi juga berkelindan dengan kehidupan peserta didik, baik di rumah maupun di lingkungan sekitarnya untuk menumbuhkan budi pekerti mulia.

Dalam perkembangannya, literasi dapat dimaknai sebagai pemahaman terhadap teks dan konteksnya. Karena pada prinsipnya manusia sejak dilahirkan, mengarungi masa kehidupannya, hingga kematiannya selalu berurusan dengan teks. Pemahaman secara intensif terhadap berbagai ragam teks akan dapat membantu dalam menjalani kehidupan dengan berbagai dinamikanya, karena teks merupakan representasi dari kehidupan individu dan komunitas dengan multikulturnya masing-masing.

Memahami komponen Gerakan literasi Sekolah

Komponen GLS menurut Clay dan Ferguson dibagi menjadi beberapa komponen. Setidaknya dengan memahami komponen tersebut, akan membantu merumuskan dan membentuk teknis yang tepat dan tepat sasaran.

Tanpa mengetahui komponen sasaran, tentu saja hasilnya kurang efektif. Padahal dalam dunia pendidikan, efektifitas inilah yang ditekankan. Berikut adalah komponen literasi menurut Clay dan Ferguson tersebut.

  1. Literasi Dini

Literasi dini yang dimaksud pada gerakan literasi sekolah adalah kemampuan siswa untuk menyimak, berkomunikasi dan memahami bahasa lisan yang dilakukan di lingkungan rumah siswa. Dengan kata lain, orang yang paling besar di sini adalah komunikasi bahasa ibu sebagai literasi dasar.

  1. Literasi dasar

Sedangkan literasi dasar itu sendiri adalah kemampuan membaca, menulis, berbicara dan berhitung yang sudah melibatkan kemampuan analisis, perceiving dan drawing yang didasarkan pada pemahaman siswa.

  1. Literasi Perpustakaan

Gerakan literasi sekolah pada literasi perpustakaan adalah upaya pemahaman seseorang dalam hal memahami jenis bacaan. Misal bacaan fiksi dan nonfiksi.

Literasi perpustakaan juga memberikan pemahaman tentang bagaimaan memanfaatkan koleksi referensi, periodical dan deway decimal system sebagai syarat memahami klasifikasi di perpustakaan. Termasuk pula memberikan pemahaman dalam penggunaan katalog, pengindekan dan masih banyak lagi.

  1. Literasi Media

Literasi media juga disebut juga dengan gerakan literasi sekolah yang fokus pada media. Media dalam hal ini bisa berupa media cetak ataupu media elektronik yang berbentuk seperti telvisi ataupun radio. Termasuk pula internet juga termasuk media yang harus diperkenalkan tujuan penggunaannya.

  1. Literasi Teknologi

Literasi teknologi adalah kemampuan dalam memahami kelengkapan hardware dan software. Dimana literasi teknologi itu sendiri memiliki etika. Misal etika mengoperasikan teknologi yang tepat seperti apa dan bagaimana, dan cara pemanfaatan literasi teknologi yang tepat juga harus bagaimana.

       6.Literasi visual

Gerakan yang juga akan dipelajari adalah literasi visual. Literasi visual ini lebih fokus pada bagaimana mengembangkan kemampuan dan memenuhi kebutuhan belajar dengan cara lebih menarik. Misalnya dengan materi visual dan audio visual lebih kritis.

Menguasai Prinsip Gerakan Literasi sekolah

Tidak dapat dipungkiri jika gerakan literasi sekolah juga memperhatikan prinsip yang ditekankan.

Menurut Beers (2009) prinsip literasi sekolah meliputi sebagai berikut:

  • Dijalankan Sesuai Tahap Perkembangan : Tentu saja gerakan literasi sekolah dijalankan sesuai dengan tahap perkembangan siswa. Jika siswa adalah anak TK tentu saja buku yang diberikan adalah buku anak-anak TK. Tidak mungkin bukan anak TK diberikan buku bacaan anak-anak SMP. Memahami betul tahap perkembangan akan membantu dalam memilih strategi pembiasaan yang sesuai, tepat sasaran dan efektif.
  • Menerapkan Program Literasi Secara Seimbang : Seringkali gerakan literasi sekolah asal menjalankan saja. Padahal gerakan literasi sekolah yang baik yang dilakukan secara seimbang. Maksudnya adalah menyadari betul kebutuhan siswa apa. Misalnya memberikan jenis buku yang sesuai dengan jenjang pendidikan dan sesuai dengan kurikulum.
  • Terintergrasi Dengan Kurikulum : tentu saja GLS haruslah yang terintegrasi langsung dengan kurikulum. Oleh sebab itu dalam memberikan pembiasaan dan semacamnya juga didasarkan pada kebutuhan kurikulum.
  • Memberikan Kebebasan Membaca dan Menulis: gerakan literasi sekolah yang menyenangkan adalah tidak memberikan tekanan atau kekangan untuk mereka. misalnya membiarkan mereka membaca dan menulis kapan dan di manapun. Jadi tidak hanya dilakukan di sekolah atau di rumah saja. Bahkan saat berada dalam bus sekolah juga dibolehkan mereka membaca. Termasuk membebaskan bacaan yang mereka baca di luar jam sekolah.
  • Mengembangkan Budaya Lisan: ternyata kelas yang bebasis literasi yang baik adalah mengajak siswa untuk berdiskusi. Berawal dari diksusi inilah yang akan menstimulus siswa untuk berani berpendapat dan belajar mengungkapkan pendapat mereka. tentu saja, dengan cara ini kemampuan berfikir kritis pun secara tidak langsung juga akan terbentuk.

Implementasi Kegiatan

Untuk mengimplementasikan penumbuhan budaya literasi di sekolah diperlukan langkah-langkah strategis, diantaranya persiapan, pelaksanaan, pemantauan, evaluasi, dan tindak lanjut. Persiapan merupakan kegiatan menyiapkan bahan, personal, dan strategi implementasi. Seperti rapat koordinasi, pembentukan TLS (Tim Literasi Sekolah), sosialisasi kepada semua warga sekolah, dan persipan infrastruktur yang mendukung. Adapun pelaksanaan merupakan operasionalisasi yang telah dipersiapkan. Sedangkan pemantauan, evaluasi, dan tindak lanjut merupakan kegiatan untuk mengetahui efektivitas kegiatan literasi yang telah dilaksanakan. Pemantauan dapat dilaksanakan setiap saat. Namun alangkah idealnya dapat dilaksanakan tiap tiga bulan sekali. Sementara itu, evaluasi dapat dilaksanakan tiap satu semester atau satu tahun pelajaran. Berdasarkan pemantauan dan evaluasi yang dilakukan secara terprogram, permasalahan implementasi GLS dapat diketahui kekurangan dan kelebihannya. Hal ini akan memudahkan untuk melakukan rencana tindak lanjut pada tahun pelajaran berikutnya.

Strategi Membangun Budaya Literasi

Dalam pengembangan budaya literasi, sekolah hendaknya mampu menjadi garis depan atau motor penggerak agar implementasinya bisa lebih optimal. Adapun beberapa strategi untuk menciptakan budaya literasi yang positif di sekolah diantaranya, pertama, mengondisikan lingkungan fisik ramah literasi. Lingkungan fisik adalah hal pertama yang dilihat dan dirasakan warga sekolah. Oleh karena itu, lingkungan fisik perlu terlihat ramah dan kondusif untuk pembelajaran. Sekolah yang mendukung pengembangan budaya literasi sebaiknya memajang karya peserta didik di seluruh area sekolah, termasuk koridor, kantor kepala sekolah dan guru.

Selain itu, hasil karya peserta didik diganti secara rutin untuk memberikan kesempatan kepada semua peserta didik. Selain itu, peserta didik dapat mengakses buku dan bahan bacaan lain di semua area sekolah baik kelas, kantor, dan area lain. Hasil karya peserta didik yang dipamerkan/dipajang di ruang kepala sekolah dan ruang guru akan memberikan kesan positif tentang komitmen sekolah terhadap pengembangan budaya literasi.

Kedua, mengupayakan lingkungan sosial dan afektif sebagai model komunikasi dan interaksi yang literat. Hal ini dapat dibangun melalui model komunikasi dan interaksi seluruh stakeholders sekolah. Hal itu dapat dielaborasikan dengan rekognisi atas capaian peserta didik sepanjang tahun. Pemberian reward dapat dilakukan saat upacara bendera setiap minggu untuk menghargai capaian prestasi peserta didik di semua aspek. Prestasi yang dihargai bukan hanya akademik, tetapi juga sikap dan capaian peserta didik.

Dengan demikian, setiap peserta didik mempunyai kesempatan untuk memperoleh penghargaan sekolah. Selain itu, literasi diharapkan dapat mewarnai semua perayaan penting di sepanjang tahun pelajaran. Ini bisa direalisasikan dalam bentuk festival buku, lomba poster, mendongeng, karnaval tokoh buku cerita, dan sebagainya. Kepala sekolah selayaknya berperan aktif sebagai motor penggerak literasi, antara lain dengan membangun budaya kolaboratif dengan semua warga sekolah.

Ketiga, mengupayakan sekolah sebagai lingkungan akademik yang literat. Lingkungan fisik, sosial, dan afektif berkaitan erat dengan lingkungan akademik. Ini dapat dilihat dari perencanaan dan pelaksanaan gerakan literasi di sekolah. Sebaiknya sekolah memberikan alokasi waktu yang cukup banyak untuk pembelajaran literasi. Salah satunya dengan menjalankan kegiatan membaca dalam hati dan guru membacakan buku dengan nyaring selama 15 menit sebelum pelajaran berlangsung. Untuk menunjang kemampuan guru dan staf, mereka perlu diberikan kesempatan untuk mengikuti program pelatihan literasi sekolah.

Untuk itu strategi literasi dalam pembelajaran sebenarnya dapat diaplikasikan di semua mata pelajaran. Dengan fleksibel guru dapat mengelaborasikan secara kreatif sehingga mampu mengembangkan kompetensi peserta didik dalam ranah berpikir kritis dan juga keterampilan berpikir tingkat tinggi.

Dengan demikian para guru hendaknya memahami konten materi pembelajaran yang diberikan dapat dielaborasikan dengan menyisipkan budaya literasi yang dapat memberikan penguatan dan pendalaman akan materi yang diajarkan. Tentunya guru juga harus memperluas wawasannya dengan mencari kajian referensi yang komprehensif dan lintas bidang sehingga materi yang diberikan semakin membumi.

Pentingnya Critical Thinking dalam literasi. Berpikir secara kritis bukan mengkritik tetapi menulis berdasarkan ilmu pengetahuan dan pengalaman yang dimiliki.

Gerakan Literasi Sekolah adalah sebuah gerakan dalam upaya menumbuhkan budi pekerti siswa yang bertujuan agar siswa memiliki budaya membaca dan menulis sehingga tercipta pembelajaran sepanjang hayat.

Adapun yang perlu juga diperhatikan untuk mengoptimalkan budaya literasi di sekolah adalah pelibatan publik. Dalam gerakan literasi sekolah pelibatan publik perlu menjadi bagian penting dari visi dan misi sekolah. Praktik di banyak negara maju membuktikan reformasi pendidikan yang hanya melibatkan lingkungan internal seperti peserta didik dan warga sekolah tidak akan berlanjut dalam jangka panjang.

Pelibatan publik dapat dilakukan melalui program-program keayahbundaan (parenting), menyinergikan kegiatan belajar di sekolah dan di rumah, memperkuat komunikasi dan jejaring sekolah dengan pihak eksternal, menggalakkan program relawan, melibatkan elemen masyarakat dalam perencanaan kegiatan-kegiatan literasi sekolah, serta meningkatkan kolaborasi antar sekolah, alumni sekolah, dan komunitas pegiat literasi.

Bila partisipasi publik sudah dapat mendukung gerakan literasi di sekolah, maka hubungan mutualisme dapat terjalin dengan baik. Sehingga tujuan akhirnya dapat mengoptimalkan gerakan literasi sekolah secara komprehensif.

Salam literasi!