Esai oleh: Dra. Ninik Solihat (SMAN 1 Cikembar)

 

 

Allah SWT. menciptakan manusia berbeda-beda dari suku, bangsa, dan bahasa untuk saling mengenal. Salah satu nikmat yang diberikan Allah kepada manusia dengan menjadikan kita sebagai makhluk sosial. Jika kita mendalami hikmahnya, maka kita semua akan tahu bahwa itu menjadikan kita saling menjalin ukhwah atau hubungan yang erat satu sama lain.
Sebagai makhluk sosial, sebaiknya kita bisa berteman dengan siapa saja tanpa membedakan ras, suku, warna kulit, bahkan agama. Akan tetapi, di dalam Islam kita dianjurkan untuk hati-hati memilih teman karena bisa saja kita terpengaruh dengan teman kita.
Satu hal yang kerap diabaikan adalah bahwa teman ternyata memegang peranan penting untuk membuat pikiran dan tubuh kuat. Hasil penelitian menunjukkan bahwa persahabatan sama pentingnya dengan menjaga kesehatan tubuh serta mendapatkan asupan makanan yang baik. Memiliki pertemanan yang kompak dapat menjaga kesehatan otak serta membantu kita dalam menentukan pilihan hidup lebih baik. Pertemanan membantu kita dalam mengatasi rasa stres serta membantu memulihkan berbagai masalah kesehatan dengan cepat. Menghabiskan waktu dengan teman secara positif juga bisa membuat penampilan lebih baik; karena hal tersebut membuat kita merasa lebih bahagia. Sebuah alasan yang solid untuk menginvestasikan waktu pada persahabatan/teman yang baik dan mengenyahkan teman yang justru memberi manfaat buruk!
Dalam Alquran surat Al-Hujurat ayat 13, Allah SWT berfirman:

“Wahai manusia, sesungguhnya Kami menciptakan kamu dari seorang laki-laki dan seorang wanita dan menjadikanmu bersuku-suku dan berbangsa-bangsa agar kamu saling mengenal. Sesungguhnya orang yang paling mulia di antara kamu di sisi Allah adalah orang yang bertakwa. Sesungguhnya Allah Maha Mengetahui lagi Maha Mengenal.”

Kita sebagai makhluk sosial, tentu saja membutuhkan keberadaan orang lain, hal itu juga merupakan tujuan penciptaan manusia . Oleh karena itu, dalam menghadapi perjalanan hidup, kita akan bertemu dengan seorang yang mampu memberikan dukungan positif bagi kita. Kita mengenalnya dengan sebutan teman.
Seorang teman cenderung akan mampu mengerti dan memahami diri kita sepenuhkanya. Ia juga menjadi seseorang yang selalu kita ajak untuk berbagi segala perasaan termasuk kesedihan atau kegembiraan.
Setiap orang pasti memiliki teman sebagai tempat berbagi rasa, saling menasehati dan saling tolong-menolong baik dalam keadaan susah atau bahagi. Teman yang tulus yaitu dia yang menerima kita apa adanya.Mencari teman janganlah berdasarkan kepentingan semata yang sesaat, tetapi demi kemaslahatan bersama yang abadi, maslahat di dunia, terlebih maslahat di akhirat.
Akan tetapi mencari teman yang baik di zaman sekarang bukanlah perkara mudah mengingat kemajuan teknologi yang membuat manusia sibuk dengan dunianya sendiri. Kebanyakan orang tidak lagi memperhatikan dengan siapa ia berteman. Padahal, teman yang baik dapat memberikan pengaruh yang sangat ajaib dalam kehidupan seseorang yang pada akhirnya dapat memberikan syafa’at (pertolongan) pada hari Kiamat.

Menurut Shaffer (2005), pertemanan diartikan sebagai sebuah hubungan yang kuat dan bertahan lama antara dua individu yang dikarakteristikkan dengan kesetiaan, kekariban, dan saling menyayangi.

Teman adalah orang yang sangat dekat dengan kita, yang tidak memiliki hubungan darah maupun marga. Teman adalah orang yang sangat kita percayai, yang kita anggap bisa menjaga dan menyimpan segala jenis rahasia dan cerita yang telah kita bagi bersamanya. Ketika kita tidak punya teman seorang pun maka ada kala hidup terasa hampa dan gundah gulana karena setiap apa yang kita lakukan pasti selalu asyik jika kita lakukan bersama dengan teman. Tidak perlu harta kekayaan yang melimpah, jabatan tinggi dan hidup serba berkecukupan tanpa ada kekurangan sedikit pun, tapi itu semua percuma jika kita tidak punya seorang teman.
Pertemanan/pergaulan di masa muda mempunyai pengaruh yang sangat besar daripada pergaulan yang masa pada periode usia dewasa. Hal itu disebabkan karena masa muda adalah waktu membentuk pemikiran dan jalan hidup seseoran. Secara kejiwaan, anak muda sangat mudah dipengaruhi dan salah satu pengaruh terbesarnya adalah teman sepergaulannya.Untuk itu kita sebagai orang tua harus selalu memantau dan mengarahkan anak-anak kita, dengan siapa mereka berteman? Karena hal ini akan berdampak besar terhadap kepridian mereka di masa yang akan datang.
Dalam menjalin pergaulan, hendaknya kita meneladani Rasullah SAW yang sangat pandai dalam bergaul. Dengan kepiawaiannya Beliau mampu melembutkan hati para kaum Quraish dan berhasil mengajak mereka mengikuti dakwahnya. Dalam riwayatnya beliau juga memiliki sikap yang ramah, rendah hati, dan beliau juga tidak pernah mencela orang lain. Dan sebagai umatnya hendaknya kita mencotohi apa yang telah dilakukan oleh Beliau.
Tidak hanya itu, islam juga menekankan kita agar teliti dalam memilih teman. Banyak orang yang terjerumus kedalam kemaksiatan dan kesesatan karena pengaruh berteman dengan orang yang salah. Namun tidak sedikit pula orang yang mendapatkan kebaikan dan hidayah karena bergaul dengan orang-orang yang shalih.

Teman dalam Islam adalah saling mengingatkan kita kepada Allah, menegur kita ketika salah dan membela kita di saat kita tidak bersamanya. “Teman yang paling baik adalah apabila kamu melihat wajahnya kamu teringat kepada Allah, mendengar kata-katanya menambah ilmu agama, melihat gerak-geriknya teringat akan kematian, sebaik-baik sahabat di sisi Allah ialah orang yang paling baik terhadap temannya dan sebaik-baik tetangga di sisi Allah ialah orang yang terbaik terhadap tetangganya,” (HR. Hakim).

Kita harus pandai memilih teman akan memberikan manfaat positif untuk kehidupan kita. Memilih teman untuk bergaul atau sebagai pendamping hidup menjadi satu kewajiban agar kita tidak menyesal di kemudian hari. Begitu besarnya pengaruh teman terhadap kita sehingga Rasulullah mengajarkan doa agar kita jauh dari teman yang buruk.
Begitu pula sebaliknya jika kita berada pada lingkungan yang buruk atau berteman dengan orang yang tidak baik maka akibat terdekat adalah kita akan terbawa melakukan perbuatan-perbuatan buruk. Rasululllah SAW wasiatkan kepada umatnya, ”Seseorang itu menurut adat (tabiat) temannya, maka hendaklah seseorang darimu memperhatikan siapakah yang menjadi temannya.” (HR Abu Daud).
Lalu, bagaimanakah teman yang baik itu? Rasulullah telah memberikan bimbingan dan tuntunan kepada kita dalam sabdanya, ”Orang yang terpilih di antara kalian adalah orang yang mengingatkan kalian kepada Allah jika melihatnya, perkataannya menambah giat kalian untuk beramal, dan amalnya membuat kalian makin mencintai akhirat.” (HR al-Hakim dari Ibnu Umar).
Mereka inilah yang akan menjadi teman sejati kita. Mereka mengingatkan ketika kita lalai, menjadi penerang ketika kita kegelapan, menjadi penghibur ketika kita dalam kesedihan, dan menjadi penuntun ketika kita dalam kebuntuan.
Mudah-mudahan kita bisa mendapatkan dan menjadi teman sejati bagi yang lain. Karena dengan pertemanan/persaudaraan yang dibingkai dengan keimanan dan ketakwaanlah akan mengantarkan kita ke surga.
Sebenarnya, sangat mudah mengetahui seperti apa cerminan diri seseorang. Cukup dengan melihat bersama siapa saja dia sering bergaul, seperti itulah cerminan diri mereka
Memilih teman yang baik adalah sesuatu yang tak bisa dianggap remeh. Karena itu, Islam mengajarkan agar kita tak salah dalam memilihnya. Rasulullah bersabda “Seseorang itu tergantung pada agama temannya” Oleh karena itu, hendaknya kita memperhatikan siapa yang akan kita jadikan teman Sudah dapat dipastikan, bahwa seorang teman memiliki pengaruh yang sangat besar terhadap temannya. Teman bisa mempengaruhi agama, pandangan hidup, kebiasaan dan sifat-sifat seseorang.
Bagi kita teman itu tidak bisa digambarkan dengan apapun, teman itu selalu ada baik disaat suka maupun duka. Bahkan, teman itu sudah seperti keluarga kita sendiri padahal dia bukan berasal dari keluarga kita, dengan kata lain berasal dari luar keluarga kita. Sebagai umat Islam diwajibkan untuk memuliakan seorang teman yang di jalan Allah taala. Untuk itu perlu diperhatikan dalam memilih teman.
Pilihlah seorang sahabat/teman yang mengajakmu pada ketaatan dan hindarilah sahabat yang mengajakmu pada kemaksiatan. “Perumpamaan kawan yang baik dan kawan yang buruk seperti seorang penjual minyak wangi dan seorang peniup alat untuk menyalakan api (pandai besi). Adapun penjual minyak wangi, mungkin dia akan memberikan hadiah kepadamu atau engkau membeli darinya, mungkin engkau mendapat bau wangi darinya. Sedangkan pandai besi, mungkin dia akan membakar pakaianmu atau engkau mendapat bau yang buruk” (HR. Bukhari dan Muslim)
Perbanyaklah berteman dengan orang-orang yang saleh. Hasan Al-Bashri berkata “Perbanyaklah berteman dengan orang-orang yang beriman, karena mereka memiliki syafaat pada hari kiamat,” (Ma’alimut tanzil 4/268). Namun ketika kita berteman dengan orang yang salah, sudah sepantasnya pula kita menjauhi dia atau bahkan menasehatinya, karena apapun ceritanya sesama muslim adalah bersaudara. Beruntunglah orang-orang yang memiliki sahabat berhati mulia dan taat kepada Allah. Ia laksana bintang yang senantiasa menerangi. Ketika kita salah, dia hadir untuk mengingatkan. Ketika kita ditimpa musibah ia datang untuk menghibur. Ketika kita kedulitan, dia dating mengulurkan tangan.
Dari semua keutamaan memiliki teman yang saleh, ada keutamaan yang juga merupakan kenikmatan besar, yaitu pertemanan orang yang saleh akan berlanjut sampai surga dan akan kekal selamanya. Tentu ini kenikmatan yang sangat besar, karena antara teman dekat pasti tidak ingin berpisah dengan sahabat lainnya. Pertemanan sementara di dunia kemudian dipisahkan dengan kematian begitu saja, tentu bukan akhir yang indah.
Salah satu dalil bahwa akan ada persahabatan/teman di hari kiamat akan berlanjut bahwa orang yang saling mencintai (termasuk para sahabat) akan dikumpulkan bersama di hari kiamat.

Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Setiap orang akan dikumpulkan bersama orang yang ia cintai.” (HR. Bukhari dan Muslim)

Berteman dengan orang yang beriman dan bertakwa kepada Allah akan memberikan kita ketenangan, aman, dan nyaman berada dekat dengan mereka. Bahkan ketika kita melihatnya saja hati menjadi tentram. Saling menguatkan satu sama lain sudah seperti kewajiban yang harus dilakukan jika kita berteman. Jika kita lemah dan sedang dilanda masalah, akan ada seseorang yang membantu kita bangkit dan bersemangat kembali.
Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda tentang syafaat antara sahabat di hari kiamat. Diriwayatkan bahwa apabila penghuni surga telah masuk ke dalam surga, lalu mereka tidak menemukan sabahat-sahabat yang selalu bersama mereka dahulu di dunia, maka bertanyalah mereka tentang sahabat-sahabat itu kepada Allah SWT.

”Ya Rabb, kami tidak melihat sahabat-sahabat kami yang sewaktu di dunia sholat bersama dengan kami, puasa bersama kami dan berjuang bersama kami.” Maka Allah berfirman, ”Pergilah ke neraka, lalu keluarkan sahabat-sahabatmu yang di hatinya ada iman walaupun hanya sebesar zarah.” (HR Ibnul Mubarak, dalam kitab Az Zuhd).

Itulah keajaiban teman yang baik dapat memberikan syafaat di akhirat kelak.
Kehidupan manusia tidaklah abadi, kita hanya sementara hidup di dunia ini. Tentunya, pada kehidupan selanjutnya kita berharap semoga dapat bertemu dengan orang yang kita cintai.
Hanya orang bertakwa yang akan berteman sampai surga. Saling membantu dalam kebaikan, bertemu dan berpisah karena Allah. Persahabatan/teman bukan sebatas hubungan di dunia, namun ia juga akan menentukan posisi kita di akhirat kelak.
Setelah kita tahu betapa berharga memiliki teman, ada baiknya teman itu dipilah dan dipilih. Karena di hari kiamat ada sekelompok manusia yang hidup dan matinya berteman, tapi ketika dibangkitkan mereka bermusuhan. Hanya orang bertakwa yang akan berteman sampai surga. Saling membantu dalam kebaikan, bertemu dan berpisah karena Allah. Pertemanan bukan sebatas hubungan di dunia, namun ia juga akan menentukan posisi kita di akhirat kelak. Islam memandang persahabatan/teman ibarat sebagai sebuah bangunan. Dimana nilai persahabatan/teman merupakan pondasi bangunan yang akan saling menguatkan. Jika pondasi tersebut kuat maka kokohlah bangunan tersebut.

Dalam pepatah Arab dikatakan, kalau mau kenal seseorang, tanyakan siapa temannya, dengan siapa berteman. Kalau mau tahu kepribadian sesorang, lihat bagaimana temannya.

Sebelum berteman baik dengan seseorang, lihat dulu teman karibnya. Kalau sahabatnya baik, besar kemungkinan dia juga baik dan pantas dijadikan teman akrab.
Berteman dengan orang yang budi dan imannya lebih rendah sangat berbahaya, sebab persahabatan/teman itu saling pengaruh-mempengaruhi.
Nilai pertemanan akan menimbulkan rasa cinta kasih yang akan semakin memperkuat ikatan kebersamaan. Diumpamakan bahwa persahabatan ialah seperti amggota tubuh, jika ada yang sakit, maka bagian tubuh yang lain akan ikut merasakannya. Dikutip dari hadist riwayat muslim berikut :

“Perumpamaan mukmin dalam hal saling mencintai dan berkasih sayang adalah ibarat satu satu tubuh, apabila satu organnya merasa sakit, maka seluruh tubuhnya turut merasakan hal yang sama, sulit tidur dan merasakan demam.” (HR. Muslim).

Dalam hidup ini, menemukan sahabat/teman terbaik bukanlah hal yang mudah. Karena ridak bisa dipungkiri bahwa, setiap manusia memiliki kepentingan dalam menjalin sebuah hubungan tidak terkecuali sebuah persahabatan/teman. Namun, jika anda bisa menemukam sosok teman yang selalu membuat anda mengingat-Nya, maka ia merupakam sosok spesial dan teman terbaik bagi anda. Dimana anda hidup, siapa sajakah orang yang anda ajak berteman tentu akan sangat berpengaruh kepada pembentukan karakter diri anda. Lebih gampangnya bahwa jika anda berteman dengan orang sholeh maka anda akan mengikutinya, sebaliknya jika anda bersahabat dengan orang yang kurang baik akhlaqnya maka pasti akan berpengaruh juga kepada anda. Karenanya, sangat penting memilih teman yang memiliki karakter dan akhlak yang baik Banyak yang terjebak dan terjerembab karena memilih sahabat/teman yang salah. Dengan melihat betapa nilai persahabatan/teman dalam islam amat di junjung tinggi. Maka sudah sepantasnya anda mampu selektif dalam memilih sahabat/teman.
Begitu pentingnya kedudukan seorang teman dalam kehidupan umat manusia sehingga Islam memandang hal ini sebagai sesuatu yang sangat besar. Oleh karena itu, agama mengatur tata pergaulan antar sesama dalam kehidupan di dunia.
Untuk menggambarkan betapa pentingnya seorang teman, Rasulullah SAW memerintahkan kepada kita agar tidak sendirian saat berpergian jauh (safar) termasuk traveling. hendaklah ia mencari seseorang untuk menemaninya. Ini bukti bahwa memiliki teman sangatlah dianjurkan bagi seorang muslim. Hal ini sesuai dengan sabda Rasulullah SAW di bawah ini:

“Seandainya orang-orang tahu bahaya sendirian sebagaimana aku mengetahuinya, niscaya mereka enggan pergi sendirian malam-malam.” (HR. Al-Bukhari)

Berdasarkan pada hadits tersebut di atas dapat disimpulkan bahwa, adanya bahaya yang selalu mengintai bila bepergian seorang diri, karena setan senang menggoda manusia yang sendirian. Selain itu dengan bersama-sama, kita bisa shalat berjamaah.
Begitu besarnya nilai pertemanan, maka Rasulullah SAW mengaitkannya dengan shalat dan betapa bahayanya kesendirian. Itulah perlunya memiliki teman yang selalu bersama. Bahkan, Rasulullah SAW memanggil pengikutnya untuk hidup bersamanya dengan gelar “sahabat” bukan murid.

“Sahabat terbaik di mata Allah adalah yang paling baik kepada sahabatnya, begitu juga tetangga terbaik.” (HR. Ahmad, Darimi, Tirmidzi, Ibnu Khuzaimah, dan Ibnu Hubban)

Ali bin Abu Thalib juga pernah berkata pada anaknya:
Wahai anakku: jangan sekali-kali memilih orang bodoh sebagai kawan karibmu, sebab ia hanya akan mendatangkan kesulitan bagimu disaat ia ingin menolongmu. Jangan engkau jadikan orang pelit sebagi temanmu, sebab ia akan menjauhkan dirinya darimu saat engkau sangat membutuhkannya. Jangan berkawan dengan orang yang berbudi rendah, sebab ia akan “menjualmu” dengan harga yang murah. Janganlah berteman dengan pendusta, karena ia sama saja dengan fatamorgana, mendekatkan bagimu yang jauh dan menjauhkan yang dekat. Maka sudah selayaknya kita harus berteman dengan orang yang mendekatkan diri kita kepada Allah, dan kita selalu berdoa agar teman karena teman yang baik akan membawa kita ke surga.
Itulah keajaiban berteman. Semoga Allah selalu membimbing kita dalam bergaul dengan teman.
Kita tidak bisa memungkiri bahwa lingkungan atau teman berpengaruh besar dalam membentuk kebiasaan kita. Jika kita berada pada lingkungan yang baik dan kondusif, atau berteman dengan orang yang baik maka Insya Allah kita akan terbawa menjadi baik.
Mereka inilah yang akan menjadi teman sejati kita. Mereka mengingatkan ketika kita lalai, menjadi penerang ketika kita kegelapan, menjadi penghibur ketika kita dalam kesedihan, dan menjadi penuntun ketika kita dalam kebuntuan. Semoga kita beserta teman kelak samapi ke surga. Aamiin.

Tulisan ini pernah dimuat di http://beritadisdik.com/news/pesona/mengapa-kita-harus-berteman–apa-keajaibannya-