Artikel oleh: Panji Pratama, S.S., M.Pd. (SMAN 1 Nagrak)

 

Apa jadinya, jika abjad resmi dalam bahasa Indonesia menyusut hingga tinggal 14 huruf saja? Lalu, apa jadinya, jika berkomunikasi isinya hanya simbol-simbol rumit atau konsonan-konsonan yang disingkat tanpa variasi vokal? Fenomena inilah yang terjadi saat ini pada anak-anak didik kita.

Mereka menyebutnya bahasa “Alay”. Padanan-padanan kata macam “C!yuz m! 4p?” atau “J4d!, W hrz bl@Ng WoW g3+h0.” sudah beredar luas di keseharian mereka, baik dalam bahasa tulis maupun lisan. Kebiasaan ini muncul sebagai dampak dari kencangnya arus globalisasi, yang menuntut segala sesuatu menjadi serba cepat dan instan. Lebih dari itu, bahasa alay merupakan cara efektif bagi penggunanya, untuk menunjukan eksistensi dan pergaulan sehari-hari.

Memang fenomena ini tidak bisa dibendung begitu saja, karena menurut siswa-siswi kita, seperti itulah alat komunikasi (bahasa). Akan tetapi, lambat laun kebiasaan tersebut tentu akan mengikis jati diri bangsa dan merusak tatanan berbahasa Indonesia di masa yang akan datang. Di lain sisi, kenyataan ini menjadi Pekerjaan Rumah yang luar biasa bagi guru-guru bidang studi Bahasa Indonesia. Sayangnya, justru bahasa Indonesia selalu menjadi pelajaran yang malas untuk dipelajari siswa kita. Bahkan, stigma buruk muncul terhadap pelajaran bahasa Indonesia, hanya karena menjadi pelajaran yang nilainya paling kecil di Ujian Nasional.

Fakta ini sebetulnya sudah pernah diprediksi oleh para budayawan dan sastrawan tanah air dalam karya-karya mereka. Oleh karena itu, sastra menjadi jembatan yang baik bagi perkembangan penyerapan bahasa. Nah, sastra juga dapat menjadi pembelajaran yang menyenangkan untuk menumbuhkan minat siswa terhadap bahasa Indonesia. Dalam hal ini adalah materi sajak.

Sajak sendiri adalah karya sastra yang sangat puitis. Sesuatu disebut puitis apabila sesuatu tersebut dapat membangkitkan perasaan, menarik perhatian, menimbulkan tanggapan yang jelas, dan dapat menimbulkan keharuan (Pradopo, 1987: 13). Sehingga suasana puitis dalam sajak adalah keindahan yang menjelma dalam sajak itu sendiri. Coba kita sampaikan pada siswa betapa indahnya barisan kata-kata, seperti: ratna mutu manikam, mesra, gelora, aduhai, atau harmonis. Adakalanya, siswa kita heran dengan kata-kata tersebut. Hal itu karena kesulitan mencerna makna dalam kata-kata tersebut. Alasan lainnya, mereka jarang sekali menulis puisi atau bersentuhan langsung dengan sajak dalam keseharian mereka.

Untuk itu, pembelajaran menulis puisi bisa dimulai dengan apersepsi berupa video cuplikan film romantis atau video mengenai keindahan alam. Sisihkan waktu sekira sepuluh menit untuk siswa-siswi kita menyelami keindahan yang terkandung dalam tayangan tersebut. Jika minat mereka sudah fokus, ajukanlah pertanyaan mengenai perasaan mereka setelah menonton video. Kemudian, suruh mereka menuliskan “rasa” tersebut ke dalam sebuah kata yang bisa mewakili penginderaan mereka. Maka, anak didik kita sudah mempunyai ide atau tema untuk mulai menulis puisi.

Selanjutnya, ajak siswa-siswi kita untuk mengeksplorasi beberapa diksi yang bisa dicocokan dengan tema mereka. Selain itu, tambahkan imajinasi latar yang sesuai untuk menggambarkan suasana dalam calon puisi mereka. Jika semua sudah berjalan baik, tuntun mereka untuk membuat parafrase sajak dengan menuliskan sebuah kalimat berdasarkan ilustrasi yang mereka catat sebelumnya.

Jangan lupa untuk sedikit menerangkan mengenai teori majas, yang fungsinya untuk lebih memperindah bahasa. Jelaskan pula teori-teori dasar lain mengenai sajak, seperti rima dan irama. Lambat laun, mereka akan paham bahwa deretan kata yang mereka ajukkan bisa disusun sedemikian rupa, menjadi bait-bait indah dan bermakna.

Di penghujung pembelajaran, biarkan anak didik kita untuk merenungi hasil karya mereka. Ambil beberapa sampel puisi siswa untuk dibacakan didepan kelas oleh mereka sendiri. Refleksikan bahwa rangkaian kata-kata yang runut dan indah lebih bisa mewakili pikiran dan perasaan mereka, dibandingkan berkomunikasi dengan bahasa alay. Dengan begitu, para pemuda-pemudi bangsa ini akan paham sendiri, betapa bahasa Indonesia begitu luar biasa.

*) Artikel ini pernah ditayangkan pada Rubrik Forum Guru, Pikiran Rakyat, November 2012.