Esai oleh: Kania Rismayanti, S.Pd. (SMAN 1 Cikembar)

 

Banyak orang bertanya: Apa itu menulis? Apa manfaat dari menulis? Bagaimanakah cara menulis? Pertanyaan semacam ini seringkali muncul dari seseorang yang berminat untuk memulai kegiatan menulis. Menurut KBBI pengertian menulis adalah melahirkan pikiran atau perasaan (seperti mengarang, membuat surat) dengan tulisan. Sedangkan menurut  Sumarno (2009:5) menulis berarti mengekspresikan secara tertulis gagasan, ide, pendapat, pikiran, dan perasaan.

Keterampilan menulis tentunya bukan sesuatu yang mudah untuk dilakukan. Keterampilan menulis bukan pula berbicara tentang bakat atau kemampuan. Seseorang akan dapat dan terus menulis jika ia memiliki motivasi dan komitmen yang tinggi dalam menulis. Tanpa adanya sebuah motivasi yang kuat, maka seseorang dapat dipastikan tidak akan dapat menulis. Mengapa kita tidak bisa produktif dalam menulis? Atau mungkin mengapa kita kesulitan untuk memperoleh ide saat menulis? Jawabannya adalah, karena kita belum mengetahui hakikat Q.S. 18:199 yang terjemahannya sebagai berikut:

 

Katakanlah: kalau sekiranya lautan menjadi tinta untuk (menulis) kalimat-kalimat Tuhanku, sungguh habislah lautan itu sebelum habis (ditulis) kalimat-kalimat Tuhanku, meskipun Kami datangkan tambahan sebanyak itu (pula).

             

Sebagai makhluk ciptaan Tuhan, kita pasti tidak asing lagi dengan kitab petunjuk hidup. Sebagai umat muslim, kitab petunjuk hidup ini disebut dengan Al-Qur’an. Melalui Al-Qur’an inilah Tuhan menuntun makhluk ciptaan-Nya agar sesuai dengan fitrah penciptaannya (Q.S. Al-Baqarah:185). Sudah menjadi kebenaran umum bahwasanya tujuan diciptakannya mahkluk, salah satunya manusia adalah untuk mengabdi kepada Sang Pencipta, yakni Allah SWT. Salah satu perintah yang tidak asing bagi kita adalah membaca dan menulis. Perintah ini secara eksplisit dalam disimak dalam Q.S. 96: 1-5 sebagai berikut:

 

Bacalah, dengan (menyebut) nama Tuhanmu yang menciptakan,

Dia telah menciptakan manuia dari segumpal darah.

Bacalah, dan Tuhanmulah Yang Maha Pemurah,

yang mengajar (manusia) dengan perantaraan kalam.

Dia mengajarkan kepada manusia apa yang tidak diketahuinya.

 

Iqra, perintah membaca, ini sedemikian pentingnya sehingga diulang dua kali dalam rangkaian wahyu yang pertama. Perintah membaca ini ditujukan pertama kali kepada Nabi Muhammad SAW, seorang yang tidak pernah membaca suatu kitab apa pun sebelum turunnya Al-Qur’an. Selanjutnya perintah yang berkaitan dengan menulis tercantum dalam Q.S. 68: 1-3 yang berbunyi:

 

Nun, demi kalam dan apa yang mereka tulis,

berkat nikmat Tuhanmu kamu (Muhammad) sekali-kali bukan orang gila

Dan sesungguhnya bagi kamu benar-benar pahala yang besar yang tidak putus-putusnya.

 

Menulis merupakan tugas iman. Subjek pertamanya adalah pena, ilmu pertama adalah bahasa, dan ayat pertama berbunyi “Iqra atau baca”. Jika Membaca dapat memperluas ilmu, maka dengan menulis membuat ilmu tersebut menjadi tersebar luas, karena menulis merupakan jendela ilmu. Semakin banyak kita membaca dan menulis, maka semakin kaya pula kita akan pengetahuan dan pengalaman hidup.

Seperti yang dikatakan oleh Imam Syafi’ie: Ilmu bagikan binatang liar dan menulis adalah tali pengikatnya. Ikatlah hewan buruanmu dengan tali yang kuat. Adalah bodoh sekali jika anda memburu seekor kijang, kemudian anda lepaskan begitu saja tanpa tali pengikat. Ungkapan ini bermakna jika ilmu yang kita miliki tidak dijaga dalam bentuk tulisan, maka akan mudah lari meninggalkan kita, ibarat binatang liar yang lari tanpa diikat.

Menulis dan membaca juga ibarat dua sisi mata uang, satu dan lainnya saling melengkapi peran dan fungsi masing-masing. Jika ada sebagian orang yang berpendapat bahwa membaca dan menulis itu  hanya membuang-buang waktu saja, tentu hal itu merupakan kekeliruan yang sangat besar. Membaca tanpa menulis ibarat memiliki harta dibiarkan menumpuk tanpa dimanfaatkan. Menulis tanpa membaca, ibarat mengeduk air dari sumur yang kering. Tidak membaca dan tidak menulis, ibarat orang tak berharta jatuh kedalam sumur penuh air. Maka dari itu perintah membaca dan menulis ini adalah perintah yang paling berharga yang Allah berikan kepada manusia.

Namun kenyataannya kegiatan menulis dirasakan sebagai beban berat dan momok yang masih sangat menakutkan. Hal ini juga banyak dirasakan oleh para guru, tuntutan untuk bisa menulis mungkin merupakan sebuah beban bukan kewajiban. Pada saat mengajar di kelas, seorang guru sanggup berbicara hingga berjam-jam tanpa adanya kendala yang berarti. Namun, pada saat guru diminta untuk menulis, seringkali ia merasa kewalahan bahkan sekujur tubuhnya dilumuri keringat dingin. Tak jarang banyak keluhan yang terlontar dari para guru, diantaranya: “Saya tidak bisa menulis, Saya tidak berbakat dalam hal tulis-menulis, atau menulis itu menakutkan” dan masih banyak lagi ungkapan-uangkapan yang lainnya. Padahal sebelum mereka menyandang predikat Sarjana Pendidikan, mereka diwajibkan untuk menyusun tugas akhir berupa skripsi. Bukankan itu bagian dari karya tulis mereka yang sudah teruji? Lantas mengapa masih banyak guru yang merasa takut untuk menulis?

Rupanya permasalah bukan terletak pada ketidakmampuan guru tersebut, melainkan karena ia merasa bahwa menulis itu sebagai that’s not  my job. Ia merasa bahwa tugasnya ya mengajar, bukan menulis. Timbulnya rasa kurang percaya diri, merasa jika tulisan yang dibuatnya tidak menarik atau kurang bagus. Gejala tersebut dinamakan syndrome trying to be always ‘right’. Atau mungkin seseorang tidak menulis karena takut dikritik. Saat seseorang menyodorkan ide baru, ia malah diserang dan dijatuhkan. Karena sebagian besar dari kita adalah cenderung penjadi seorang penilai bukan penulis, kritkus bukan kreator. Kondisi seperti inilah yang akhirnya dapat menghambat kreatifitas guru tersebut.

Sebenarnya menulis merupakan rangkaian dari tiga proses, yaitu: membaca, merenung, lalu menulis. Ketiga hal tersebut merupakan sebuah keterampilan yang harus dimilki oleh guru pada masa kini. Rendahnya kebiasaan membaca akan menyulitkan seseorang untuk menulis. Padahal membaca itu tidak harus selalu berkaitan dengan buku, kita juga bisa membaca melalui peristiwa maupun pengalaman, baik itu pengalaman sendiri maupun orang lain. Semakin kita banyak membaca, semakin sering juga kita merenung. Memikirkan dalam-dalam segala sesuatu yang sudah kita peroleh atau alami, sehingga kita bisa memetik berbagai macam pelajaran berharga dari apa yang sudah kita baca.

Seorang pendidik adalah sosok yang harus membawa perubahan pada peradaban. Guru merupakan sosok yang memiliki kemampuan teoritis dan juga praktis. Guru adalah bibit terbaik yang dimiliki oleh bangsa yang diharapkan mampu menjadi rujukan bagi para peserta didiknya sebagai calon generasi emas yang akan datang. Maka dari itu, sudah seyogyanya guru memiliki peran dalam pertukaran ide dan gagasan melalui karya-karya yang ditorehkan salah satunya dalam bentuk karya tulis. Baik dan buruk, diterima atau tidak bukanlah sebuah persoalan. Namun tekad yang kuat, usaha yang maksimal, itu adalah teladan bagi para anak didiknya.

Waktu merupakan modal dasar dari kehidupan seorang muslim yang bertaqwa. Islam mengajarkan bahwa salah satu ciri seorang muslim adalah pribadi yang menghargai waktu. Ajaran Islam mengajarkan, menghargai waktu adalah sebagai salah satu indikasi keimanan dan bukti ketaqwaan sebagaimana tersirat dalam surat berikut: 

 

“Dan Dia (pula) yang menjadikan malam dan siang silih berganti bagi orang yang ingin mengambil pelajaran atau orang yang ingin bersyukur” (Q.S. 25:62)

 

Maka dari itu, mari kita manfaatkan sisa waktu kita dengan sabaik-baiknya. memberikan manfaat bagi orang lain dengan cara berkarya, akan menjadikan hidup kita lebih bermakna.***