Oleh Ninik Solihat

(Guru SMAN 1 Cikembar)

Peran guru dalam perjalanan sejarah bangsa Indonesia sungguh besar dan sangat menentukan. Sejak masa penjajahan, guru selalu menanamkan kesadaran akan harga diri sebagai bangsa dan menanamkan semangat nasionalisme kepada peserta didik dan masyarakat. Pada tahap awal kebangkitan nasional, para guru aktif dalam organisasi pemuda pembela tanah air dan pembina jiwa serta semangat para pemuda pelajar.

Guru adalah sosok Pahlawan tanpa tanda jasa yang tak kenal lelah mencetak generasi penerus sebagai pemimpin selanjutnya Bangsa Indonesia. Orang filsuf pernah berkata, “Orang hebat bisa melahirkan beberapa karya bermutu, namun guru yang bermutu dapat melahirkan ribuan orang-orang hebat” Guru adalah sumber kekuatan yang dimiliki Bangsa Indonesia dalam memajukan Sumber Daya Manusia (SDM) yang unggul.

Sebagaimana kutipan di bawah ini:

“Kita hitung berapa jumlah orang guru yang selamat dan masih hidup di antara puing-puing reruntuhan negara kita. Amankan mereka sebab dengan merekalah negara ini dapat bangkit dan berjaya lagi!” (Pidato Kaisar Hirohito setelah Hiroshima dan Nagasaki dibom atom tahun 1945).

Apa yang dikatakan Kaisar Jepang menandakan bahwa peranan guru sangat penting dalam membangun sebuah bangsa yang bermartabat. Karena jasa gurulah anak-anak bangsa menemukan jati diri yang sesungguhnya. Guru adalah pembangkit hidup di saat anak-anak bangsa kehilangan arah dan tersesat dalam menjalani kehidupan.

Undang-Undang Nomor 14 Tahun 2005 tentang Guru dan Dosen menegaskan bahwa guru adalah pendidik profesional dengan tugas utama mendidik, mengajar, membimbing, mengarahkan, melatih, menilai dan mengevaluasi peserta didik pada pendidikan anak usia dini jalur pendidikan formal, pendidikan dasar, dan pendidikan menengah. Dengan demikian, guru merupakan salah satu faktor yang strategis dalam menentukan keberhasilan pendidikan yang meletakkan dasar serta turut mempersiapkan pengembangan potensi peserta didik untuk masa depan bangsa.

Sebagai penghormatan kepada guru, pemerintah Republik Indonesia melalui Keputusan Presiden Nomor 78 Tahun 1994, menetapkan tanggal 25 November selain sebagai HUT PGRI juga sebagai Hari Guru Nasional. Untuk memperingati momentum yang berharga ini, Kementerian Pendidikan, Kebudayaan, Riset, dan Teknologi telah memberikan berbagai apresiasi terhadap dedikasi guru.

Mengutip laman gtkdikdas.kemdikbud.go.id, tema Hari Guru Nasional 2021 adalah “Bergerak dengan Hati, Pulihkan Pendidikan.”

Tema tersebut memang sangat sesuai dengan kondisi saat ini. Di mana perjuangan para guru sebagai tenaga pendidik menghadapi tantangan yang semakin berat, dengan adanya pandemi covid-19 yang masih belum berakhir. Sejak awal pandemi, terjadi perubahan besar dalam dunia pendidikan, terutama pada pelaksanaan proses belajar mengajar. Seiring berjalannya waktu, kini situasi mulai membaik setelah berbagai upaya dilakukan. Dunia pendidikan sudah mulai berjalan secara tatap muka walaupun masih terbatas.

Adapun makna dari tema Hari Guru Nasional 2021 yang diusung, “Bergerak dengan Hati, Pulihkan Pendidikan” diharapakan dapat menjadi acuan para pendidik dalam mengarahkan peserta didiknya menjadi pemuda dan pemudi yang memahami perkembangan zaman.

Sedangkan bergerak dengan hati, bermakna membawa siswa mengetahui lebih banyak ilmu pengetahuan dengan empati yang tinggi, agar mereka bisa menyerap ilmu pengetahuan dengan baik.

Makna kata pulihkan pendidikan menjadi kunci hari Guru Nasional kali ini. Setelah dengan keadaan sebelumnya banyak murid mengalami kesulitan untuk mendapatkan pembelajaran jarak jauh.

Pandemi Menginspirasi Guru Bangkit Berinovasi dalam Pembelajaran

Pandemi yang membatasi pergerakan manusia dan mengurangi, bahkan meniadakan aktivitas pertemuan dengan jumlah orang yang banyak, menyebabkan kegiatan belajar mengajar di sekolah tak dapat lagi dilaksanakan.

Pertemuan Tatap Muka (PTM) dikurangi bahkan ditiadakan. Keadaan ini tentu saja berpotensi menyebabkan terganggunya proses pendidikan yang mengancam masa depan para pelajar sebagai generasi penerus bangsa.

Tidak semua guru telah terbiasa menggunakan teknologi pembelajaran online. Dalam keadaan sulit, para guru tidak berputus asa. Mereka yang tadinya tidak familiar, mau tak mau harus bersedia mempelajari cara-cara mengajar online. Butuh waktu, kesabaran, tenaga bahkan biaya dalam prosesnya.

Bahkan ada guru yang telah berusia lanjut, di mana kebanyakan teknologi bukanlah sahabat terbaik mereka. Namun sekali lagi, hati ikhlas mereka mendorong semangat untuk berusaha mempelajari berbagai hal baru. Mulai dari mengajar dengan aneka sarana pertemuan online, sampai pada upaya mempersiapkan bahan ajar yang lebih sesuai.

PTM Terbatas Sebagai Awal Pemulihan Pembelajaran

Kini, situasi sudah menjadi lebih baik, sekolah dapat memfasilitasi murid-murid untuk mendapatkan pendidikan sebagai bekal kehidupan.

Berdasarkan laman ditpsd.kemdikbud.go.id, saat ini strategi pendidikan di era pasca pandemi juga menyesuaikan dengan kebutuhan dan bertransformasi dengan teknologi.

Guru memiliki tugas yang cukup berat dalam menjalankan perannya untuk terus mencerdaskan kehidupan bangsa. Terlebih di masa Pandemi Covid-19 saat ini, peran guru dalam mengawal pendidikan menjadi pilar utama dalam mencerdaskan kehidupan bangsa.

Perjuangan dan Semangat Guru di Tengah Pandemi

Seperti kita ketahui, kegiatan belajar mengajar selama 2 tahun terakhir menggunakan sistem Pembelajaran Jarak Jauh (PJJ).

Maka dari itu, Kemendikbud memberikan apresiasi terhadap seluruh guru dan tenaga pendidik yang berjasa dalam mengatasi learning loss akibat pandemi Covid-19.

Para guru hendaknya bertekad untuk mengajak dan menggerakkan rekan guru lainnya agar memiliki prinsip yang sama, menomorsatukan murid dalam setiap keputusannya sebagai pendidik. Perubahan pola pikir yang paling mengesankan dari semuanya adalah terlihat sebuah perubahan pola pikir guru-guru. Hal ini merupakan salah satu program terobosan Merdeka Belajar. Guru-guru ini bertransformasi menjadi pemecah masalah. Jika ada masalah, mereka cenderung memikirkan apa solusi yang bisa dilakukan. Mereka tidak berhenti pada keluh kesah dan perasaan tidak berdaya. Mereka bersikap positif, tidak hilang akal. Ibarat pepatah, tidak ada rotan, akar pun jadi. Mereka memiliki keyakinan diri, kemauan kuat untuk terus belajar, daya juang (resilience), dan semangat berkolaborasi. Mereka tidak merasa sendirian, saling membantu satu dan lainnya.

Semangat belajar dan berbagi Sebuah transformasi fundamental saat ini sedang terjadi diantara para guru seluruh Indonesia. Kini, jutaan guru lainnya sedang bertransformasi dalam masa pandemi ini. Karena dipaksa oleh keadaan, guru melakukan adaptasi pembelajaran. Mereka mulai bereksperimentasi dengan menggunakan teknologi. Pemulihan pembelajaran sedang terjadi di sekolah setelah melalui pembelajaran di masa pandemi yang berkepanjangan. Budaya belajar semakin menguat diantara para guru Indonesia selama pandemi. Misalnya dalam platform belajar bernama Guru Belajar dan Berbagi yang dikembangkan Kemendikbudristek. Dalam platform ini guru-guru dari berbagai mata pelajaran dan jenjang dapat mengikuti berbagai program belajar mandiri secara gratis. Platform ini juga membuka ruang kolaborasi pemerintah, guru, komunitas, dan penggerak pendidikan untuk bergotong royong berbagi ide dan praktik baik.

Transformasi “Guru Merdeka Belajar”

Merdeka Belajar sesungguhnya merupakan filosofi kebijakan pendidikan yang berpijak pada filosofi Bapak Pendidikan Indonesia, Ki Hajar Dewantara. Nilai utama seorang guru tersirat dalam semboyan beliau, yaitu Ing ngarso sung tulodo, ing madyo mangun karso, tut wuri handayani. Guru sejatinya adalah seorang teladan, yang senantiasa membangkitkan semangat dan menguatkan kemauan, dan mendorong kemandirian dan kemerdekaan muridnya. Dari filosofi Ki Hajar Dewantara, kita bisa mencermati tiga ciri utama guru yang baik.

Pertama, guru harus memandang anak dengan rasa hormat. Inilah nilai yang paling fundamental seorang guru. Setiap anak memiliki keunikan masing-masing. Bahkan dua anak kembar pun memiliki ciri khasnya sendiri-sendiri. Ki Hajar menganalogikan pendidik seperti petani, dan murid seperti bibit yang dirawat oleh petani tersebut. Jika petani mendapat bibit padi, maka ia harus menumbuhkan bibit tersebut menjadi padi. Tidaklah realistis mengharapkan bibit padi tumbuh menjadi jagung. Itu berarti berlawanan dengan kodrat penciptaan padi. Selain itu, sang petani harus menumbuhkan padi sesuai dengan ilmu perawatan padi. Janganlah merawat padi dengan ilmu merawat jagung. Maka padi tidak akan dapat tumbuh dengan sempurna. Karena itu, guru yang baik harus mampu memahami karakteristik dan keunikan setiap muridnya sehingga dapat menumbuhkembangkannya sesuai dengan kodratnya sang murid.

Kedua, guru perlu mendidik murid dengan holistik. Dalam bahasanya Ki Hajar, pendidikan yang holistik tersebut adalah pendidikan yang menjaga keseimbangan olah cipta, olah rasa, olah karsa, dan olah raga. Pendidikan hendaknya bertujuan untuk menajamkan pikiran, menghaluskan perasaan, menguatkan kemauan dan menyehatkan jasmani. Menurut Ki Hajar, keseimbangan proses pendidikan yang holistik akan menghasilkan manusia-manusia yang penuh kebijaksanaan.

Ketiga, guru perlu mendidik murid secara relevan sesuai dengan kodrat keadaannya. Selain kodrat alam kebudayaan dan kebangsaaannya, guru haruslah mendidik murid sesuai dengan kodrat zamannya. Kodrat zaman kita adalah revolusi teknologi digital di semua sektor, atau yang dinamakan revolusi industri 4.0 yang terus bergerak maju dengan sangat cepat. Kita juga sedang dihadapkan pada krisis pandemi global Covid-19 yang telah dan akan terus memengaruhi berbagai dimensi kemasyarakatan kita. Karena itu kodrat keadaan, baik kodrat alam dan kodrat zaman, harus terus disikapi secara arif dan aktif oleh guru dari waktu ke waktu. Guru adalah profesi yang mulia dan terhormat. Pembenahan tata kelola guru perlu segera diwujudkan agar semua guru mendapatkan kesejahteraan dan kondisi kerja yang layak.

Pandemi tidak menyurutkan semangat guru, tapi justru menyalakan obor perubahan. Guru-guru se-Indonesia berharap agar mendapat kesempatan yang adil untuk mencapai kesejahteraan. Para guru juga menginginkan akses teknologi dan pelatihan yang relevan dan praktis.

Semoga dengan adanya program Merdeka Belajar bisa menjadi sebuah gerakan masif yang dapat melahirkan ribuan inovasi pembelajaran. Dengan sosok guru yang punya keberanian untuk melangkah ke depan menuju satu tujuan utama, yaitu mencerdaskan kehidupan bangsa.

Selamat Hari Guru, semoga kita dapat melaksanakan Amanah!

 

Pernah diposting di Beritadisdik.com